Istiqomah, Salah Satu Kunci Sukses

Rabu, 12 Mei 2010

Ketika kuliah saya berteman akrab dengan Agustinus Chondro, yang selalu mendapat nilai dengan rangking tertinggi. Suatu saat saya pernah bertanya, bagaimana dia belajar sehingga mempunyai nilai yang bagus. Dia mengatakan“ Tiap hari minimal saya belajar 2-3 jam. Jika suatu hari saya tidak belajar karena ada halangan, maka saya mesti menggantinya dihari yang lain” jawabnya . “Apakah anda tidak capek dan bosan dalam menepati jadwal anda yang ketat” tanyaku selanjutnya.
“ Oh, sebaliknya. Hidupku jadi bersemangat”

Jawaban mas Agus, kedengarannya sederhana dan seakan jawaban standard. Tetapi jika direnungkan ternyata dalam jawaban tersebut mengandung makna ketekunan, konsistensi atau istiqomah dan tanggungjawab. Dan sipat-sipat ini memang melekat pada orang yang sukses. Rasanya tidak ada orang yang sukses tanpa sipat-sipat ini.

Ketika mendapatkan pencerahan, baik itu setelah membaca buku atau mengikuti seminar kita sering mempunyai keinginan yang kuat untuk menjalankan nasehat atau strategi yang baru kita dapat. “Ini ide bagus. Saya akan menjalankannya”. Namun ketika sudah sampai di rumah, keinginan itu jauh berkurang bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Sehingga perubahan sikap, yang diharapkannya tidak terjadi.

Sikap inilah yang menjadi kendala utama kenapa orang sulit berubah atau maju. Mereka tidak mampu mengalahkan diri sendiri. Mereka tidak mampu mengganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih baik dan berdaya guna. Sikap ini adalah hal yang wajar dan sesuai dengan hukum alam. Setaiap orang pasti mengalaminya.

Jika anda pernah belajar ilmu fisika, tentu anda ingat bahwa setiap electron akan mengitari inti sesuai dengan energi yang dimilikinya. Keadaan semacam ini dikatan sebagai keadaan inert (keadaan seimbang). Jika electron tersebut ingin naik ke tingkat energi yang lebih tinggi, mereka memerlukan energi dari luar. Jika energi dari luar dihentikan, electron akan kembali ke keadaan semula (inert).

Begitu halnya dengan manusia, setiap orang berkecenderungan berada di daerah inert. Pada keadaan ini anda akan merasa nyaman dan tenteram, yang sering kita kenal dengan zona nyaman. Pada keadaan ini, aktivitas sehari-hari yang dilakukan tidak memerlukan pemikiran dan dan energi yang berlebihan. Semuanya telah berjalan dengan teratur dan mengalir begitu saja.

Namun ketika, anda berkeinginan berpindah zona yang lebih tinggi, kebiasaan yang ada, cara yang biasa dilakukan, harus diubah. Pada saat inilah timbul ketidaknyamanan karena irama tubuh anda, kebiasaan anda belum menyesuaikan diri. Anda perlu ektra tenaga, dan pemikiran agar dapat terus berada di zona yang lebih tinggi dari zona nyaman. Sedikit saja terlena, anda akan jatuh ke zona nyaman kembali.

Agar tetap berada di zona yang lebih tinggi dari zona nyaman, diperlukan impian dan kesadaran yang terus menerus untuk mewujudkan impian tersebut. Kesadaran yang tinggi akan memberikan arah, mendorong pertumbuhan, menumbuhkan kedisplinan (istiqomah) dan mampu mnegalahkan kemalasan dan kesulitan yang dihadapi.
Agar perubahan yang dilakukan tidak memberatkan dan hangat-hangat tahi ayam, Islam mengajar kita untuk mengganti kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang baik sedikit demi sedikit dan dilakukan secara terus menerus (istiqomah). Lalu anda dapat menambahnya dengan memberikan sangsi jika melalaikan kebiasaan yang akan anda terapkan. Ketika saya mulai membiasakan untuk solat berjamaah di Masjid, saya memberi sangsi pada diri sendiri dengan membayar infak Rp.200.000 untuk sholat shubuh dan Rp. 100.000,- untuk sholat yang lainnya. Setelah lama mempraktikkan hal ini, saya merasakan bahwa uang tersebut belum berarti apa-apa. Belum bisa menggantikan pahala yang saya dapat dari melakukan sholat berjamaah, sehingga saya merasa sedih dan kehilangan. Perasaan inilah yang dapat memelihara saya untuk tidak mudah meninggalkan sholat berjamaah di Masjid.

Tentunya kita menyadari bahwa, cara yang selama ini dilakukan masih banyak kekurangannya. Karena itu kita perlu terus berusaha untuk memperbaiki kebiasaan, sikap dan cara kerja kita. Sehingga dari hari ke hari nilai waktu kita terus bergerak naik. Jika sekarang nilai waktu kita Rp. 10.000,- per jamnya, kita terus berupaya agar bisa berkembang secepatnya. Kita tidak boleh merasa apa yang kita lakukan adalah yang terbaik dan maksimal. Sadarilah masih banyak cara yang lebih baik dan lebih cepat untuk meningkatkan nilai waktu anda.

Saya sangat terinspirasi oleh sajak Douglas Malloch, yang saya temukan di bukunya Frank Bettger “ Jurus anti Gagal Dalam menjual” terbitan Gramedia. Mungkin sajak ini bermanfaat bagi anda. Coba resapi dan renungkan dalam-dalam.

Anda mungkin tidak ada kelirunya
Dalam cara anda hidup, pekerjaan yang anda lakukan,
Tetapi saya dapat melihat dengan jelas, apa yang salah dengan diriku,
Bukannya saya malas atau melalaikan tugas dengan sengaja.

Saya bekerja sekeras orang lain, namun sedemikian sedikit yang saya peroleh.
Pagi sudah lewat, dan kini menginjak tengah hari.
Tiba-tiba malampun mendekat, tanpa saya sadari.
Dan, ya ampun. Disekitar saya bertumpuk hal-hal yang belum saya selesaikan.
Kalau saja saya bisa lebih teratur!
Kerap kali sudah saya sadari,
Bukan manusianya yang penting; manusianya juga harus punya rencana.

Anda mungkin tidak ada kelirunya, tetapi inilah kesulita-kesulitan langsung saya.
Saya mengerjakan hal-hal yang bernilai banyak,
atau bahkan yang tidak ada nilainya apapun.
Banyak hal yang benar-benar penting terlewatkan begitu saja.
Saya coba ini, coba itu, tetapi tidak pernah sampai selesai.
Kerjaku sekeras yang lain-lain,
Tetapi begitu sedikit hasilnya.
Kalau saja saya dapat bekerja dengan tertib,
anda akan heran, begitu banyak hal yang akan saya capai.

Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......

Malu, Musuh terberat

Selasa, 11 Mei 2010

Pada saat duduk di bangku sekolah baik tingkat Madrasah Tsanawiyah ( setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (Setingkat SMA), saya termasuk murid yang tidak suka mengikuti kegiatan ekstra kulikuler. Saya tidak tahu persis kenapa saya tidak suka pada kegiatan-kegiatan tersebut.

Hingga ketika saya duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah, salah seorang guru memaksa saya untuk mengikuti acara muhadloroh, latihan berpidato. Sungguh peristiwa itu merupakan pengalaman yang sulit dilupakan. Bagaimana tidak, bicara didepan teman-teman sekelas saja, tidak bisa. Rasanya jantung mau copot dan leher seperti dicekik. Sehingga yang keluar adalah kata-kata yang tidak bermakna.

Setelah kejadian itu, hati saya berkata “ Lif, kamu ini gimana. Katanya mau jadi sarjana. Sarjana macam apa jika kamu tidak bisa bicara didepan umum. Apakah kamu mau menjadi sarjana yang sebenarnya bukan sarjana. Lalu buat apa kesarjanaanmu?. Apa bisa kamu menjadi kaya jika kamu tidak bisa bicara di depam umum? Bukankah kesuksesan itu mudah diraih jika kamu menjadi pemimpin. Lantas apa kamu bisa menjadi pemimpin jika kamu tidak bisa bicara didepan umum?” Kata-kata itu terus mengiang-ngiang dihatiku. Sehingga mampu mengalahkan rasa malu dan malas untuk terlibat pada kegiatan muhadloroh. Justru kegiatan itu menjadi kegiatan yang sangat kunantikan. Dan saya selalu berusaha agar disetiap kegiatan bisa tampil kedepan.

Alhamdulillah, ketekunan saya mengikuti kegiatan muhadloroh membuahkan hasil, saya ditunjuk untuk memberi sambutan pada acara akhirus sanah (pelepasan siswa kelas 3 Madrasah Aliyah), di depan lebih dari 700 orang. Setelah turun dari panggung ada pujian dari seorang ibu, yang mempunyai anak gadis sangat cantik “ Dik, sambutannya sangat bagus”. Perasaanku sangat melambung saat itu. Bagaimana tidak, dipuji oleh seorang ibu, yang anakku aku taksir, walaupun saya tidak berani berterus terang. He he he …..

Ketika mulai mengerjakan skripsi, pikiran saya kembali terusik,” Lif, rasanya kamu belum pantas lulus menjadi sarjana. Kamu belum lancar bicara didepan umum. Jika kamu lulus sarjana, kamu akan mengalami kesulitan berlatih bicara didepan umum. Tetapi jika kamu masih menjadi mahasiswa, ada banyak organisasi yang dapat kamu masuki untuk berlatih bicara didepan umum”.

Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan pembuatan skripsi dan focus mengikuti oraganisasi yang bisa menjadi tempat berlatih bicara didepan umum. Banyak organisasi saya ikuti, mulai dari Karang Taruna, Remaja Masjid, HMI, dan lain sebagainya. Saya selalu berusaha untuk bisa tampil dalam setiap acara, tidak peduli peran yang saya ambil, yang penting bisa tampil didepan umum.

Saya pernah berperan sebagai pembawa acara mulai dari acara kegiatan keagamaan, acara ulang tahun prosesi pemakaman mayat dan sebagainya. Saya juga pernah berperan sebagai pemabaca Alqur’an walaupun saya merasa bacaan saya kurang bagus, pembaca sari tilawah, pemberi sambutan. Yang paling mengesankan saya pernah memberi sambutan rombongan mempelai laki-laki didepan lebih dari 1000 orang. Saya juga pernah menjadi pembicara resepsi pernikahan didepan lebih dari 500 orang. Waktu itu sebenarnya saya sempat menolak, karena sebagai mahasiswa saya belum kawin dan belum mempunyai banyak pengalaman. Bagaiman mungkin saya memberi nasehat orang yang menikah sementara saya belum menikah. Namun disisi lain hatiku bertanya” Lif, ini kesempatan belum tentu terulang kembali. Jika seumpama ceramahmu jelek, toh mereka tidak banyak kenal kamu. Tetapi jika ceramahmu baik, mereka akan simpati kepadamu. Lagian bukankah mereka mengundang kamu berarti mereka yakin kamu bisa dan mampu?.” Akhirnya tawaran itu saya terima.

Mengikuti banyak organisasi ternyata sangat melelahkan, hingga akhirnya saya jatuh sakit. Saat itulah saya sadar, saya telah meninggalkan bangku kuliah hampir 2 tahun. Saya harus lulus semester ini juga.

Alhamdulillah berkat bantuan temanku Asri Rini Wati saya dapat menyelesaikan skripsi dalam waktu 2 bulan. Sebenarnya ketua jurusan menolak saya bisa diuji pada semester itu, karena saya tidak pernah melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing. Namun setelah saya jelaskan kepada mereka kemana selama ini saya pergi dan saya jamin skripsi yang saya buat adalah murni karya sendiri, saya dapat mengikuti ujian skripsi di semester itu juga dengan nilai cukup memuaskan.

Sampai sekarang, kemampuan berbicara saya masih perlu dilatih terus. Karena itu saya terus berusaha untuk bisa tampil bicara didepan umum. Saya terkadang masih merasa panas dingin ketika maju ke depan. Tetapi kata orang itu hal yang wajar. Orang yang sudah terbiasa saja masih suka panas dingin.

Ternyata kemampuan bicara didepan umum ini sangat diperlukan, jika kita ingin menjadi marketing yang sukses, atau menjadi seorang manager. Keterampilan ini telah membantu saya berprestasi dalam bekerja di perusahaan orang lain maupun di perusahaan sendiri. Seorang sales membutuhkan kemampuan menjelaskan produk yang dijualnya, sehingga mudah difahami customer. Kemampuan ini hanya dapat dimiliki jika anda sering tampil berbicara didepan umum. Anda tidak percaya?. Coba praktekkan dan lihat hasilnya. Adakah seorang profesional yang mempunyai jabatan tinggi, yang tidak mempunyai keahlihan bicara didepan umum.
Semoga bermanfaat,
See you at the top

Baca selengkapnya......

"Go Double" Cara Mudah Menjadi Milyarder

Senin, 10 Mei 2010


Alhamdulillah, minggu kemarin tepatnya, tgl. 9 Mei 2010, saya dan seluruh bagian sales PT Alfa Fikrindo Utama, dapat mengikuti seminar “ Success Come form your Mind” yang disampaikan oleh Bpk. Krishnamurti, di gedung Creative Center CNI, Puri kembangan.

Walaupun apa yang disampaikan merupakan hal-hal yang biasa, namun karena cara penyampaiannya dengan gaya santai dan humor, ada banyak manfaat yang dapat diambil. Beliau sangat menganjurkan hidup sederhana, dan mendukung pola hidup “Hemat pangkal kaya”. Namun beliau juga menekankan untuk pentingnya bersedekah. Hemat bukan berarti pelit. Orang yang hemat adalah orang yang tahu dan sadar bahwa pengeluaran uang didasarkan pada kebutuhan dan azas manfaat.

Beliau juga menyampaikan tehnik sederhana bagaimana cara menjadi milyader melalui menabung. Agar proses menabung menjadi menarik dan seru (penuh tantangan) beliau menambah prinsip go double. Ya menabung dengan cara melipatkan dua kali jumlah setoran dari setoran sebelumnya.

Beliau sudah mempraktekannya sendiri, dengan menabung go double dimulai dari Rp. 10.000,-. Tabel setoran dan akaumulasinya dapat anda lihat pada table berikut.

Tabel menabung dengan go double

Bulan ke Jumlah Setoran Akumulasi Tabungan
1 Rp. 10.000,- Rp. 10.000,-
2 Rp. 20.000,- Rp. 30.000,-
3 Rp. 40.000,- Rp. 70.000,-
4 Rp. 80.000,- Rp. 150.000,-
5 Rp. 160.000,- Rp. 310.000,-
6 Rp. 320.000,- Rp. 630.000,-
7 Rp. 640.000,- Rp. 1.270.000,-
8 Rp. 1.280.000,- Rp. 2.550.000,-
9 Rp. 2.560.000,- Rp. 5.110.000,-
10 Rp. 5.120.000,- Rp. 10.230.000,-
11 Rp. 10.240.000,- Rp. 20.470.000,-
12 Rp. 20.480.000,- Rp. 40.950.000,-
13 Rp. 40.960.000,- Rp. 81.910.000,-
14 Rp. 81.920.000,- Rp. 163.830.000,-
15 Rp. 163.840.000,- Rp. 327.670.000,-
16 Rp. 327.680.000,- Rp. 655.350.000,-
17 Rp. 655.360.000,- Rp. 1.310.710.000,-
18 Rp. 1.310.720.000,-

Dari table dapat anda lihat bahwa, pada bulan-bulan pertama setoran cukup kecil, sehingga barangkali anda menganggap ini hanya permainan. Namun setelah menginjak bulan ke 5 sudah mulai terasa. Apalagi setelah bulan ke 10, tentu anda sudah harus berpikir cara mendapatkannya. Disinlah menariknya tehnik ini, kita dihadapkan pada tantangan atau target yang harus anda penuhi. Semakin anda tertantang untuk memenuhinya, maka anda akan semakin kreatip untuk mendapatkan uang atau menemukan sumber keuangan baru. Anda tidak harus menyetorkan dana tersebut tiap bulannya jika anda belum mampu. Anda dapat menyetor setelah 2 atau 4 bulan. Ini tidak masalah. yang penting anda mempunyai komitment yang kuat untuk memenuhi tanggungjawab pribadi anda untuk menyetor uang yang telah anda sepakati sendiri. Pak Krishna sendiri menyelesaikan tabungan ini setelah 2,5 tahun.

Jika anda keberatan menerima tangtangan awal Rp. 10.000,-, anda bisa memulainya dengan Rp. 5000,- atau bahkan Rp. 1000. yang penting nikmatilah prosesnya dan berkomitlah pada diri sendiri. Karena cara ini akan membuat hidup anda berhemat, kreatip dan bersemangat. Apalagi jika program ini melibatkan anak dan istri anda, dan mengajak mereka semua bertanggungjawab untuk memenuhinya, tentu akan sangat menarik. Karena secara tidak langsung mendidik anak dan istri anda untuk hidup hemat.

Selamat mencoba.
Semoga bermanfaat.
See you at the top

Baca selengkapnya......

Kendala itu bernama Modal

Kamis, 06 Mei 2010

Pada suatu pertemuan Master Mind, ada salah satu anggota yang mengeluh mengalami kesulitan modal. Setelah didesak dengan beberapa pertanyaan, ternyata kekurangan modal yang dirisaukannya sebenarnya masih bisa diganti dengan cara lain. Beliau mengatakan modal yang dibutuhkan akan digunakan untuk menambah variasi dagangan (jualan es kelapa) dan promosi, iklan di website.

Lalu teman yang lain menimpali, “kenapa tidak kerjasama dengang orang lain saja, yang sudah pengalaman jualan es kelapa?”.
‘ Kenapa mesti iklan di internet pak. Bukankah yang menjadi target pembeli itu orang disekitar warung?”
“saya ingin, menarget karyawan pabrik pak?” jawab beliau.
“ jika anda menarget pesanan dari karyawan pabrik. Apakah anda sudah siap armada pengiriman?” tanya salah satu peserta master mind yang lain..
“ pak, ayam bakar anda ini cukup lezat dan enak. Saya yakin banyak orang yang suka. Ada cara yang cukup sederhana dan murah, jika bapak mau melakukannya, yaitu kerjasama dengan rumah makan atau warung tenda yang tidak menjual menu ayam bakar. Saya yakin akan ada orang yang mau jika ditawarkan sama-sama untung. Dengan cara ini anda tidak akan banyak keluar modal. Modal yang dibutuhkan mungkin spanduk dan ayam bakarnya saja. Cara ini dapat anda lakukan untuk tes pasar, dan mengetahui seluk beluk bisnis kuliner. Nanti jika dagangan anda diminati orang dan bisa mengumpulkan modal anda bisa membuka restoran atau warung tenda sendiri.” Saran saya.

Saya sering mendengar keluhan;keluhan semacam itu. Mereka meributkan modal untuk memulai atau mengembangkan usahanya. Namun jika mau sedikit kerja lebih keras, masalah modal ini bisa digantikan dengan tenaga yang kita miliki.

Dalam perjalanan bisnis, saya selalu mengedepankan tenaga. Saya harus berpikir 10 kali jika harus mengeluarkan uang untuk pengembangan usaha. Bukannya saya pelit, tetapi ini merupakan cara yang paling tidak berisiko jika ingin mengembangkan usaha. Sebagai contoh, selama ini saya belum pernah memasang iklan di buku kuning, atau iklan lewat internet. Saya berusaha mencari iklan yang gratisan saja. Ketika saya merenovasi kantor, saya juga tidak pindah dari tempat tersebut. Renovasi saya laukan perbagian. Ketika para pesaing membeli mesin, saya belum tertarik membeli mesin hingga keuangan kami kuat. Namun biarpun kami tidak mempunyai mesin, penjualan kami tidak kalah dengan para pesaing. Ketika akan membuat website, saya ditawari harga hanya 1 jutaan, namun saya lebih senang dengan mermbuatnya sendiri. Padahal saya termasuk orang yang gaptek terhadap computer.

Sikap semacam ini ternyata merupakan buah dari sikap masa lalu. Saya jadi teringat akan kemauan saya untuk bisa kuliah. Jika mau berdalih, sebenarnya tidak menjadi sarjana tidak ada yang menyalahkan saya. Karena saya anaknya orang yang miskin. Jangankan untuk biaya kuliah, untuk makan sehari-hari saja bermasalah.

Namun karena keinginan kuliah yang begitu kuat, kesulitan ekonomi yang melilit keluarga kami bukan merupakan kendala. Justru sebaliknya keadaan ekonomi yang serba kurang itu dijadikan cambuk untuk maju.’ Saya tidak mau jadi orang miskin. Satu-satunya cara agar jadi orang kaya adalah saya harus jadi sarjana. Dan agar bisa jadi sarjana, saya harus pandai. Tidak peduli berapa banyak saya harus membaca berulang-ulang. Tak peduli berapa banyak waktu yang harus dihabiskan untuk belajar.”

Jadi kebiasaan kerja keras, dan mengedepankan tenaga daripada uang, membuat saya tidak bermasalah dengan modal usaha yang saya jalani samapai saat ini. Mudah-mudah saya tetap istiqomah untuk terus maju dengan mengedepankan kerja keras. Karena dengan cara inilah, orang bawahan bisa naik. Orang miskin bisa kaya. Orang bodoh bisa pintar. Hanya dengan mengandalkan tenaga pemberian Allah.
Ternyata semua potensi untuk meraih kejayaan dan kesuksesan sudah tersedia pada setiap orang. Tinggal apakah ada kemauan dari orang tersebut untuk menggali dan memanfaatkannya.
Saya bisa, saya yakin andapun lebih bisa. Karena anda jauh lebih hebat dari saya.
Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......