Ingin Saja Tidak Cukup, Anda Mesti ngotot

Selasa, 19 Maret 2013

Apakah anda ingin sukses? ah pertanyaan yang konyol. Setiap orang tentu ingin sukses. orang yang pemalas dan bodohpun, jika ditanya tentu mereka ingin sukses. lalu kenapa mereka tidak sukses?. Penyebab terbesarnya adalah kebanyakan orang hanya sekedar menginginkan kesusksesan namun hanya sedikit yang benar-benar mempunyai komitmen atau yang ngotot untuk meraihnya.

Kata kata komitmen atau ngotot inilah yang tidak disukai kebanyakan orang. Karena kata-kata ini mengandung makna kerja keras, dan berani keluar dari kenyamanan. Orang yang berkomitmen atau ngotot adalah orang yang mau melakukan sesuatu yang lebih. Ketika orang lain belum mulai kerja dia sudah mulai kerja. Ketika orang lain istrirahat dia malah menggunakan waktu istirahatnya untuk bekerja. Ketika orang lain pulang, mereka masih tetap asyik bekerja. Ketika orang lain santai dia bekerja. Ketika orang lain masih tidur dia sudah bangun. Ketika orang lain week end dia asyik saja bekerja.

Meskipun mereka sudah melakukan banyak hal, terkadang kesuksesan yang ingin diraih tidak kunjung juga tercapai. Namun mereka tidak menyerah. Mereka percaya, jika mereka belum berhasil, yang salah bukan mereka tetapi cara yang mereka gunakanlah yang salah. Sehingga kegagalan dijadikannya sebagi umpan balik, untuk mengubah startegi untuk meraih apa yang diimpikannya.

Orang lain yang melihat perjuangannya, barangkali akan berkata. “Alangkah bodohnya mereka. Nampaknya mereka tertipu dengan dunia. Hidup hanya sebentar saja, mereka isi dengan kesengsaraan.Hidup hanya sekali kenapa, tidak untuk dinikmati?”

Namun jika anda tanyakan kepada mereka, apakah mereka tersiksa dengan kerja keras yang mereka lakukan?. Apakah mereka tersiksa dengan keluar dari kenyamanan, seperti yang dirasakan kebanyakan orang?Tidak, sekali lagi tidak. Justru mereka menemukan kenikmatan yang jauh lebih nikmat dibandingkan dengan orang yang santai-santai plesiran ke mall, pergi mancing dan lain sebagainya.

Pernahkan anda melihat film action dimana sang lakon babak belur dihadang dengan berbagai rintangan. Darah bercuruhan, tulang rasanya remuk redam. Apakah semuanya itu dia rasakan? apakah semua itu membuat dia menyerah? Ternyata tidak. Mereka akan bangkit dan bangkit ketika jatuh. Mereka akan bangkit dan bangkit meskipun harus tertatih-tatih. Karena bagi mereka ini bukan kerja keras, itu bukan sesuatu yang menyakitkan tapi ini adalah perjuangan.

Kemudian barangkali pertanyaannya adalah, bagaimana mereka bisa melakukan semua yang menyusahkan, melelahkan dan mampu menanggung kepedihan? Karena mereka menyadari, bahwa hidup ini adalah perjuangan, hidup ini adalah tanggung jawab. Hidup ini adalah pengabdian. Hidup ini bukan untuk diri sendiri saja. hidup ini bukan untuk keluarga dan kelompoknya saja. tapi hidup ini adalah untuk kemanfaatan orang banyak.

Memang tidak semua orang mengerti akan tugas ini. Tidak semua orang mampu mengambil peran ini. Tetapi saya dan anda tidakkah anda ingin mengambil peran yang mulia ini? Tidakkah anda ingin mendapat kenikmatan yang jauh lebih baik dan nikmat yang tidak dirasakan oleh orang kebanyakan?

Jika anda mau, yuk. Kita singsingkan lengan baju. Awalnya memang anda akan merasa berat dan tersiksa. Namun ketika anda sudah menemukan makna yang sebenarnya, keterpaksaan, kecapaian, dan kelelahan akan berubah menjadi kesenangan dan kenikmatan.

Ah kok bisa? Tidak percaya? Coba tanya kepada mereka yang telah sukses meraih kesuksesan dari bawah. Mereka akan mengatakan kepada anda, bahwa kegetiran yang pernah ia jalani merupakan kenangan yang sangat indah dan sayang untuk dilupakan. Jika demikian halnya, kenapa anda menghindarinya?Itulah barangkali makna sengsara membawa nikmat.

Semoga bermanfaat
See you in the top

Baca selengkapnya......

Pak Sopir dan Penumpang

Jumat, 08 Maret 2013

Suatu ketika saya berbincang dengan kakak saya. “ Mas kapan anda sadar untuk mau menjalankan perintah Allah dengan baik. Tidak malas malsan seperti ini?”. Dengan tenang dia menjawab. Ya nanti jika rumahku, sudah seperti layaknya rumah orang lain.”. ketika rumahnya sudah dibangun, pertanyaan yang sama saya ajukan kembali. Jawabnya hampir sama, “ nanti kalau sudah ada perabotannya”. Pertanyaan yang sama saya ajukan pada tukang bangunan, dia menjawab “ bagaimana pak bisa sholat, badan kotor baju juga kotor, jika seperti bapak ya enak, dadan bersih, baju bersih sehingga sholat bisa tenang”.

Jawaban mereka atas pertanyaan diatas rupanya, mengikuti alur yang sama, saya akan …. Jika …… untuk mengerjakan sesuatu mereka nunggu, sesuatu yang lain, baru mereka berjalan. Mereka baru bertindak jika mereka mendapat rangsangan yang positip dari luar. Apakah anda juga menjawab dengan alur yang sama jika diajukan pertanyaan yang sama? Apakah orang semacam ini kira-kira bisa sukses? Apakah masa depan orang semacam ini akan cerah dan bahagia?Orang seperti ini ibarat mobil mogok yang akinya soak. Mobil baru berjalan jika didorong. Tentu ini sangat merepotkan, bukan? Setiap kali mau jalan harus didorong . Lantas jika gak ada yang dorong bagaimana ya?

Orang seperti diatas, disebut sebagai orang yang pasip. Orang yang inginnya selalu mendapat rangsangan dari luar baru dia mau bertindak. Orang seperti ini akan menjadi bagian dari rencana orang lain. Mereka akan selalu menjadi “korban” atau akaibat dari kehidupan.

Lawan orang pasip adalah orang aktip. Orang aktip menyadari dialah yang mengendalikan hidupnya. Maka mereka selalu bertindak dan bertindak. Hidup mereka penuh dengan inisiatip. Mereka sangat ringan tangan. Mereka tidak suka menunggu diperintah. Mereka suka mengambil peran didepan. Sehingga mereka bisa mewarnai kehidupan. Baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.

Orang pasip disebut sebagai type penumpang, sedangkan orang aktip sebagai type sopir. Coba anda renungkan, ketika anda bepergian, sebenarnya yang enak sopir atau penumpang. Mungkin banyak diantara kita menjawab, yang enak tentu penumpang, karena bisa santai, tiduran, ngobrol dengan yang lain, melongo atau melamun, melihat pemandangan tetapi harus membayar pak sopir.

Namun sesungguhnya jika anda renungkan dalam dalam yang enak sebenarnya pak sopir. Kenapa? Si sopir memang tidak bisa tidur dan santai. Namun si sopir akan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Si sopir akan menikmati perjalanan, pemandangan dari pada penumpang. Si sopir akan mendapatkan kegembiraan lebih banyak dan si sopir akan mendapatkan uang.

Lalu bagaimana kita bisa termasuk golongan kedua. Golongannya orang aktip, golongan sopir atau yang lebih kerennya sebagai leader? Sebenarnya sangat mudah, untuk menjadi golongan kedua. Kita hanya memerlukan kesadaran diri. Ya anda perlu menyadari bahwa hidup ini bukan sekedar permainan yang tidak ada gunanya. Anda lahir kedunia ini mengemban misi khusus. Jika anda gagal maka celakalah anda. Anda akan mendapatkan celaan, cacian dan kesengsaraan hidup yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya.

Namun jika anda berhasil menyelesaikan misi dengan baik , anda akan dieluelukan bagai seorang pemenang dalam olimpiade. Anda akan mendapatkah penghargaan yang jauh lebih tinggi dari segala penghargaan yang ada.

Jika kesadaran ini tumbuh dalam hati anda, merasuk dalam jiwa anda, anda akan menjadi orang baru yang penuh dengan energy positip, semangat yang membara memanfaatkan potensi yang ada, baik itu harta, tenaga dan pemikiran anda menjadi pelopor kehidupan. Anda tidak akan kehabisan tenaga. Anda akan penuh dengan inisiatip.Anda tidak akan kehabisan cara. Anda tidak akan kehabisan kesabaran. Karena bagi anda yang terpenting bertindak dan terus bertindak. Tidak peduli betapa sulit medan yang harus dilalui. Tidak peduli betapa terjal jalan yang harus didaki. Karena kehidupan ini bukan pemberian yang Cuma-Cuma. Semuanya. Mulai dari waktu, anggota tubuh, harta dan yang menjadi tanggungan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Dan pertanggung jawaban ini sungguh sangat berat, karena anda tidak bisa mengelak atau berbohong. Akankah kita bisa santai, akan kah kita hanya berperan biasa-biasa saja. akankah kita menunggu didorong orang lain. Akahkah kita melakukan sesuatu sebisanya saja. tanpa usaha dan usaha lebih keras lagi.

Tidak. Saudaraku. Sekali lagi tidak. Kita harus melakukan tindakan yang besar. Kita harus selalu melakukan pengembangan dan pertumbuhan dari. Jika kita tidak ingin menyesal dikemudian hari.

Masalahnya sadar tidak sadar anda adalah sopir bagi diri anda, keluarga anda, anak dan istri anda. Akan anda bawa kemana gerbong diri anda dan keluarga anda tergantung anda sendiri. Sebagai sopir mestinya anda bertanggungjawab membawa ketempat yang dituju, yaitu kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Karena itu saudaraku, sebelum kesempatan yang diberikan habis, mari kita bangun dari keterlenaan. Mari kita kembali ke misi awal keberadaan hidup didunia, yaitu menjadi Hamba Allah yang terbaik amalnya.
Semoga bermanfaat
see you at the top

Baca selengkapnya......

Posisi Modal Dalam Membangun Usaha

Kamis, 28 Februari 2013

Sering kali modal dijadikan sebagai kambing hitam untuk membangun suatu usaha. Sehingga ketika seseorang ditanya kenapa, tidak usaha sendiri? Kenapa usahanya tidak kunjung berkembang. Maka jawaban yang paling enak dan nampaknya masuk akal adalah, tidak ada modal atau kekurangan modal.

Saya teringat pada sebuah kejadian dalam hidup saya. Ketika saya duduk di semester terakhir, saya sempat berkunjung ke rumah paman. Paman tersebut kerabat jauh, karena ini kunjungan pertama kali ke rumah beliau. Setelah berbasa-basi sebentar, lalu paman bertanya “ nanti kalau selesai kuliah mau apa Lif?”. “Rencana sih mau buka usaha sendiri, namun belum punya modal?” jawab saya setelah beberapa saat terdiam. “Belum punya modal?. Apa gak salah denger tuh?” jawab paman nampak aneh. “Orang seperti kamu, dapat kuliah di Universitas terkenal katanya tidak punya modal. Terus bagaimana ya, mereka yang tidak beruntung, yang tidak bisa kuliah?”. Kata paman selanjutnya. Saya hanya diam saja, menunggu kata-kata paman selanjutnya. “Dengar ya Lif, jika usaha itu perlu modal, memang benar. Namun modal itu bukan hanya berupa uang. Dirimu sendiri itu sudah merupakan modal. Kejujuranmu itu juga merupakan moda. Tekadmu untuk maju, sehingga kamu bisa kuliah meskipun kondisi orang tuamu kekurangan itupun juga merupakan modal. Jadi, jangan mencari yang tidak ada tetapi gunakan sebaik-baiknya apa yang ada. Apa yang kamu miliki sebagai modal untuk membangun usaha kamu”.

Setelah saya berusaha lebih dari 8 tahun, ternyata kata-kata paman tersebut benar. Saya Alhamdulillah mulia merintis usaha sampai sekarang yang sudah menembus omzet diatas sepuluh milyar, belum pernah menggunakan modal uang dari Bank. Kalau toh menggunakan uang bank hanya untuk membeli asset perusahaan.Hanya dua kali saya menggunakan uang bank untuk beli mobil, yaitu kredit mobil, selanjutnya saya beli mobil dengan tunai. Dan hanya dua kali juga membeli ruko dengan cara kredit. Namun semuanya ditengah perjalanan sudah saya lunasi. Dan ruko-ruko selanjutnya saya beli secara tunai.

Mereka yang memposisikan modal uang sebagai sarana untuk menghambat membangun atau mengembangkan usaha menganggap modal uang masuk dalam daftar resep membangun usaha. Ibarat membuat makanan, kita mengenal resep membuat nasi goreng. Bahan-bahan membuat nasi goreng adalah, nasi, garam, kecap, bumbu dan minyak goreng. Meskipun kita membutuhkan wajan, kompor dan gas, namun kita tidak memasukkannya kedalam resep. Mereka yang menggap modal sebagai penghalang untuk membangun usaha berpikir bahwa, modal uang dianggap sebagai bahan pembuat makanan yang bernama “usaha”. Mereka berpikir modal uang dianggap sebagai nasi dalam resep membuat nasi goreng. Oleh karena tidak ada nasi maka tidak bisa membuat nasi goreng.

Padahal semestinya kita memposisikan modal uang sebagai alat, seperti api dalam membuat nasi goreng. Kita memang tidak bisa membuat nasi goring tanpa api. Namun kita bisa membuat api dari minyak tanah, gas atau api. Kitapun mesti sadar juga bahwa api yang dibutuhkan membuat nasi goreng, hanya secukupnya saja. jika kurang besar apinya, matengnya akan lebih lama atau bahkan tidak mateng-mateng. Namun jika apinya kebesaran maka nasinya akan gosong.

Lalu bagaimana seharusnya kita memposisikan modal uang dalam suatu usaha? Ya letakkan modal uang sebagai alat pendukung percepatan usaha. Namun jangan dijadikan sebagai sesuatu yang amat sangat fital dalam membangun usaha. Jangan jadikan modal uang sebagai alat penyelesai masalah yang serba bisa. Misalnya perusahaan mengalami kekurangan cash flow dikarenakan banyak tagihan yang macet, namun kita mengatakan dikarenakan kekurangan modal. Atau sebenarnya kita tidak bisa mempunyai usaha karena kemalasan kita, lalu dikatakan karena tidak mempunyai modal. Atau usaha kita tidak maju-maju karena tidak bisa meningkatkan penjualan, namun kita mengatakan kekurangan modal, karena tidak ada dana untuk promasi misalnya. Atau perusahaan tidak punya uang karena borosnya pengeluaran kita anggap karena kekurangan modal.

Wah jika begini kasihan ya, modal selalu dijadikan kambing hitam karena ketidak kompetenan kita dalam berusaha, karena payahnya kita dalam mengelola keuangan dan karena kurang semangatnya kita untuk maju. Awas lo nanti anda dituntut oleh “modal” ketika diakhirat? He he he. Karena itu hati-hati kalau ngomong.

Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......

Sampai kapan anda akan menjadi Kodok?

Senin, 25 Februari 2013

Di TDA (Komunitas Tangan Diatas) dikenal istilah, Amphibi atau Kodok. Sebutan ini diberikan kepada mereka yang memulai bisnisnya sambil bekerja. Mereka bekerja kepada orang lain, namun disela-sela kesibukannya menjalankan usahanya sendiri. Saya mempunyai banyak teman yang bersetatus kodok ini. Yang mengherankan bagi saya adalah kenapa mereka tetap masih menjadi kodok, padahal usahanya sudah berjalan begitu lama dan cukup menghasilkan. Ketika, saya mengajukan pertanyaan ini, banyak dari mereka diam tidak menjawab. Namun ada beberapa yang menjawab, ingin menunggu pesangon. Sayang sebentar lagi ( beberapa tahun >5 tahun) mau pensiun, masak kerja sudah begitu lama tinggal mendapatkan pesangon kok pergi. Ada jawaban yang kedengarannya lebih Agamis, saya menunggu sinyal dari Atas( baca Tuhan).

Terlepas dari apapun alasan mereka, tentunya alasan mereka untuk tetap menjadi kodok adalah demi keselamatan ekonomi mereka. Mungkin mereka berpikir” ini kan cara yang smart, mempunyai dua penghasilan. Jika ada salah satu yang bermasalah kita masih bisa aman”. Mungkin yang lain berpikir” kenapa mesti keluar jika bisa dilakukan bersama-sama?”. Apa yang mereka pikirkan itu, memang benar untuk mereka. Namun mereka lupa, tanpa mereka sadari ada orang lain yang mereka rugikan. Karena mereka merasa aman dan nyaman berusaha sambil bekerja, maka mereka merasa nyaman-nyaman saja jika kariernya tidak naik. Sehingga kerja mereka yang penting kerja. Jika posisi mereka ditempat kerja sebagai seorang manajer, maka anak buah mereka akan kehilangan kesempatan untuk menjadi manajer. Bukankah bawahan akan menjadi manajer, jika ada jabapatan mananjer yang kosong? Jika atasan tidak beranjak naik jabatannya, bagaimana anak buah bisa naik pangkat? Hal kedua yang meraka lupa adalah, jika kita focus kita akan bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih menakjubkan. Anda akan menuai dunia yang jauh lebih makur, sukses dan bahagia. Anda ingat bagaimana Thoriq bin Ziad membakar semangat tempur anak buahnya, ketika mereka tahu bahwa kekutan musuh jauh lebih banyak dan lebih lengkap persenjataanya?. Ya mereka membakar perahunya. Lalu Thoriq bin Ziad berkata” Saudara-saudara, anda sudah tahu semuanya bahwa perahu kita sudah dibakar semuanya. Dihadapan anda musuh, semntara dibelakang anda laut. Ini artinya kesempatan anda hanya satu, jika anda maju berperang ada dua keuntungan anda mati sahid atau menang dengan mulia. Tetapi jika anda mundur ke kebelakang, anda akan mati terlaknat.” Bagaimana orang yang hanya memiliki satu pilihan yang baik? Tentu mereka akan mengerahkan segenap daya upaya mereka untuk maju ke depan. Dan sejarah membuktikan Pasukan Thoriq bin Ziad. Menjadi pemenangnya. Lalu pertanyaannya kapan kita keluar dari dunia kodok? JIka usaha anda sudah melebihi penghasilan kerja anda. Jika usaha anda sudah terbukti berjalan dan terus meningkat beberapa tahun. Jika usaha anda bisa berkembang jauh lebih besar, kenapa anda tidak segera mengfokuskan diri mengembangkan usaha anda menjadi lebih besar lagi? Jika usaha anda bisa berkembang dan hanya menggunakan waktu dan tenaga tersisa, bagaimana jika anda gunakan seluruh kemampuan dan waktu anda? Bukankah akan jauh lebih besar lagi? Bukankah kinerja anda sudah teruji ditempat kerja? Kenapa anda takut meloncat? Segeralah pikirkan untk meloncat dari dunia kodok. Ambillah kendali usaha anda dengan sepenuhnya. Gunakan tenaga, pikiran, kemampuan dan waktu anda untuk mengembangkan usaha anda. Jangan terima usaha anda asal jalan. Tetapi lesatkan usaha anda dengan mengfokuskan perhatian anda untuk perkebangan usaha anda. Dari pengalaman saya, meskipun sewaktu kerja penghasilan saya cukup tinggi, ternyata hasil kerja selama 13 tahun jika dikumpulkan lalu dibandingkan dengan usaha sendiri selama 5 tahun saja ternyata sudah impas. Apa artinya ini? Saya telah melipat waktu 13 tahun hanya dengan kerja 5 tahun. Semoga bermanfaat See you at the top

Baca selengkapnya......