What is your Mission

Kamis, 16 Mei 2013

Dalam pertemuan kewirausahaan maupun bertemu dengan mereka yang baru memulai usaha, saya sering dianggap sebagai orang yang mematahkan semangat teman-teman pengusaha pemula . Hal ini karena saya sering melontarkan kritikan tentang, usaha yang mereka lakukan. Kritikan tersebut sebenarnya keluar dari rasa keprihatian yang mendalam, dimana saya sangat ingin mereka berhasil dalam usaha yang dirintisnya. Disamping itu saya juga kepengen usaha, teman-teman ini mempunyai visi dan misi yang jelas meskipun dimulai dari bawah.


Kritikan ini hadir juga disebabkan , kenyataan yang terjadi dilapangan betapa banyak pengusaha pemula yang gulung tikar. Menurut saya kegagalan tersebut disebabkan oleh cara berpikir yang pragmatis, memulai dari yang sederhana, mudah dan murah. Cara berpikir seperti ini jika dilakukan oleh mereka yang berpendidikan setingkat SMA, tidak masalah. Namun jika cara berpikir ini juga digunakan oleh mereka yang lulusan sarjana, insiyur, saya menjadi sangat prihatin.

Keprihatian saya ini paling tidak dikarena oleh 3 hal, pertama adalah rasa sayang terhadap ilmu yang telah mereka pelajari ketika kuliah. Masak seorang sarjana tehnik informatika mau usaha jualan mie ayam. Meskipun ada kemungkinan mereka berhasil, saya yakin kemungkinan besar mereka akan gagal. Karena apa? Karena mereka tidak akan total mengurusi usaha mie ayamnya.
Keprihatinan kedua adalah, kasihan mereka yang tidak sekolah atau yang sekolahnya rendahan harus bersaing dengan mereka yang sarjana. Dan keprihatinan yang ketiga adalah, lalu siapa yang akan menggarap lapangan usaha, dibidang Permesinan, IT dan bidang bidang usaha yang menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi? Padahal jenis usaha inilah yang sekarang ini masih kosong dan jarang pesaingnya. Jenis lapangan usaha inilah kedepan yang mampu membuat bangsa kita, negara kita sebagai negara yang kuat. Karena apa? Karena rakyatnya mau berpikir besar, dan melakukan hal-hal sulit.

Jika diperhatikan motivasi seseorang untuk memulai usaha, digerakkan oleh dua hal. Pertama adalah harta. Mereka berusaha karena mencari harta atau uang. Mereka yang berusaha dengan motif uang ini, akan berpikir usaha apa saja yang penting menghasilkan. Sehingga mereka terkadang kurang menghiraukan aturan agama. Mereka berusaha apa saja meskipun tidak sesuai dengan passion dan keterampilannya. Mereka yang berusaha dengan motip uang biasanya usahanya tidak konsisten, mereka mudah pindah-pindah bidang usaha dan selalu mengikuti trend. Temannya sukses dibidang A, maka mereka akan beralih dibidang A. ketika diperjalanan usahanya tidak menghasilkan sesuai yang diharapkan, bukan mencari penyebab kenapa ini terjadi, tetapi dia tengok kekiri dan kekanan mencari peluang-peluang baru. Mereka yang berusaha dengan motip uang tidak memiliki semanagt yang besar, meraka akan mudah puas dan cepat putus asa. Mereka tidak mampu menjadi perusahaan besar.

Penggerak motivasi berusaha yang kedua adalah berkontribusi atau spiritual. Mereka yang berusaha dengan motip kontribusi atau spiritual memiliki visi dan misi yang jelas. Mereka berusaha disesuaikan dengan passion dan skill mereka. Mereka tidak mudah digoyahkan oleh warna hijau rumput tetangga. Mereka akan tetap konsisten meniti jalan usaha yang dituju. Meskipun usahanya tertataih tatih mereka tidak peduli. Meskipun usahanya tidak menghasilkan mereka tidak peduli. Karena mereka berusaha untuk berkontribusi, bukan sekedar mencari uang. Mereka sudah merasa cukup mendapatkan kepuasan membantu, mempermudah orang lain. Mereka perpendapat mereka bekerja bukan untuk mengejar uang namun mereka ingin dikejar uang.

Jika anda perhatikan perusahaan yang digerakkan oleh semangat kontribusilah yang akan mampu menjadi perusahaan besar dan mendunia. Anda tahu semangat apa yang ada dalam perusahaan Ford, Microsoft, Honda dan lain sebagainya. Ya mereka digerakan oleh semangat kontribusi. Mereka ingin membantu masyarakat mendapatkan produk yang murah sehingga semua masyarakat dapat menikmatinya.

Bagaimana? Anda masih mau berpikir pragmatis dalam berusaha dan masih mau mngejar mengejar-ngejar uang terus? Anda akan capek. Sungguh akan capek.

Bukankah lebih enak jika anda dikejar oleh uang. Anda duduk-duduk uang datang sendiri. Anda berlari, uang mengejar anda. Anda tidur uang berduyun-duyun datang memenuhi rumah anda. Jika ini yang anda inginkan, hanya satu jalannya. Awali niat usaha anda dengan niat kontribusi. Anda ingin memudahkan orang. Anda ingin membantu orang. Anda ingin menyediakan sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain. Memang awalnya sulit tapi endingnya anda akan mandi uang. Mau?

Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......

Sabar dalam Menggapai Mimpi

Rabu, 08 Mei 2013

Apakah saat ini anda sedang mengalami keraguan dalam menggapai impian anda, antara dilanjutkan atau diabaikan?. Karena anda telah merasa berjuang dan berkorban terlalu banyak. Karena anda telah merasa menginvestasikan waktu, tenaga, harta dan pemikiran terlalu besar namun hasilnya belum nampak sama sekali?
Bersabarlah. Sebenarnya mewujudnya impian anda dalam kenyataan hanya menunggu waktu saja. Jika impian anda saat ini belum terwujud itu bukan berarti anda tidak layak mendapatkanya. Itu boleh jadi belum waktunya anda mendapatkannya. Itu boleh jadi cara yang anda gunakan belum mengarah ke pencapaian impian yang anda inginkan. Atau itu boleh jadi apa yang anda korbankan atau nilai tukar yang anda berikan belum sebanding dengan impian yang anda inginkan. Jika anda mengimpikan BMW baru sementara anda baru punya uang Rp.200 jt, dan anda mengingin pembelian cash, maka anda harus sabar menunggu hingga memeliki uang senilai BMW tersebut.

Percayalah, dan tambahkan kenyakinan anda, bahwa impian anda akan terwujud dalam kenyataan. Kenapa ? ya, karena anda mempunyai Allah yang Maha Perkasa, yang mampu mewujudkan apa saja. Apa artinya impian anda dibanding kekuasaanNya.? Sebenarnya dalam sekejappun impian anda bisa terwujud jika Dia menghendaki. Namun disamping Maha Perkasa Dia juga Maha Bijaksana, artinya Dia akan mempertimbangkan kepantasan anda saat menerimanya. Dia tidak ingin anda celaka gara-gara belum waktunya anda menerima tetapi sudah diberi.
Percayalah, bahwa apapun impian anda selama itu masih masuk dalam batas dapat diterima akal, akan dapat terwujud. Saya pernah mengalami sendiri. Bukankah dalam kenyakinan kita, bahwa umur, jodoh dan rizki itu sudah digariskan oleh yang Kuasa? Jika memperhatikan ini, seakan kita tidak bisa memilih dalam soal jodoh. Semua sudah diatur, kita tinggal pasrah saja.
Tetapi soal jodoh ini, ketika masih kuliah saya mengajukan 4 syarat, yaitu, pertama, umur lebih muda 4 tahun, pertimbangannya adalah katanya wanita lebih cepat tua dibandingkan laki-laki. Nanti kalau saya mau lari istri gak bisa diajak lari repotkan? Hehe he.Syarat kedua adalah, berjilbab. Ini sebagai tanda calon istri yang solihah, yang paham agama dan rajin mengaji. Syarat ketiga adalah, pegawai negri. Kenapa? Karena saya ingin menjadi seorang wiraswasta, saya ingin dapur keluarga kami nanti tetap ngebul bagaimanapun keadaan saya. Disamping supaya istri memiliki banyak waktu dirumah. Dan Syarat keempat, mau memliki anak empat. Alhamdulillah semua impian atau syarat itu terpenuhi oleh istriku, bahkan kami mendapatkan bonus satu anak, menjadi 5. Dan jika yang keguguran dihitung menjadi 6. Jadi meskipun jodoh sudah ditentukan oleh yang kuasa namun kita masih bisa memilihnya, mengajukan syarat-syaratnya yang sesuai dengan impian kita.
Untuk mendapatkan istri yang sesuai dengan impian kita tentunya tidak mudah dan diperlukan kesabaran. Bagaimana tidak, dalam perjalanan mencapai impian itu saya dipertemukan dengan wanita-wanita yang menarik hati.
Ketika kuliah, saya dipertemukan dengan seorang wanita yang menarik hati saya. Bahkan wanita ini boleh dikata cinta pertama saya. Ketika masih dalam suasana pertemanan, saya menyarankannya untuk memakai jilbab namun rupanya dia keberatan, dengan alasan belum siap. So meskipun hati saya sangat terpaut dengannya, namun dalam pikiran sadar saya selalu mengatakan, “Dia tidak masuk dalam impianmu meskipun sangat menarik hatimu “. Berat memang berjuang untuk menghapusnya dalam kenangan, tetapi itulah resiko yang harus aku alami untuk menggapai atau mewujudkan impian.
Kemudian ketika bekerja saya dipertemukan dengan seorang gadis yang cantik, kuning langsat, tinggi semampai dan orangnya sangat perhatian. Namun 3 syarat pertama tidak terpenuhi. Karena umurnya sama dengan saya, tidak berjilbab dan tidak pegawai negri. Banyak orang yang menyayangkan saya tidak kawin dengan dia. Apalagi belakangan pakaiannya yang dulunya suka pakai rok setinggi lutut kini sudah menutupi mata kaki dan memaki baju lengan panjang. Namun dia belum sampai mengenakan jilbab.
Lalu suatu saat bertemu dengan seorang gadis yang berjilbab dan umur beda 3 tahun. Namun dia bukan pegawai negeri. Ya Tuhan, akhirnya gagal juga. Sementara usiaku kian lama kian bertambah. Dan saat itu sudah berumur 28 tahun. Lalu sampai kapan aku akan mengejar impian itu?
Rintihan dan doa aku panjatkan setiap hari. Oh ternyata calon istri saya memang sedang dipersiapkan. Dia baru mau lulus kuliah dan dia baru mau menjadi calon PNS sebagai Dosen. Dan dia baru kurang lebih setahun memaki jilbab dan tepat seperti impian saya umurnya beda empat tahun. Subhanallah
Tahukah pembaca keyakinan apa yang menguatkan saya bahwa dia calon yang tepat buat saya meskipun awalnya tidak seberapa mencintai dia. Saya bermimpi dalam suasana yang gelap, ada suara yang lantang mengatakan “ JIka kamu mengawini dia, maka umurmu akan panjang, anakmu akan banyak dan rizkimu akan berlimpah” itu kata kata yang aku ingat. Mudah-mudahan masih ada tambahannya, “hidupmu akan berkah” amin ya robbal alamin

Semoga bermanfaat.
See you at the top

Baca selengkapnya......

Tampilkan, peran terbaikmu

Jumat, 26 April 2013

Disela-sela seminar “ innovation for competitiveness” yang diselenggarakan Jababeka Innovation Center, saya bertemu dengan teman lama. Setelah perbincangan cukup lama, sang teman bertanya” Sampean mengembangakan usaha Properti pakai modal sendiri atau bank?” “Pakai modal sendiri” jawab saya singkat.
“lo, bukannya kita lebih baik menggunakan modal dari bank, sehingga kita bisa menggunakan modal sendiri untuk hal-hal yang lebih tidak bisa dibiayai oleh bank.”
“ Saya mengiginkan keberkahan dan ketenangan”.
“ Bicara soal keberkahan, bagaimana pendapat sampean, tentang ; kita sudah berusaha yang terbaik, tidak mau menyakiti orang, tidak pernah ngemplang utang, terus kenapa kita disakiti dan dikemplang orang lain ya? Kita sudah berusaha baik dengan karyawan, mendidiknya, memberi fasilitas yang cukup kenapa, mereka tetap saja keluar bahkan menjadi pesaing kita ya?”

“Ya, kita ini siapa ya. Jika kita sudah berusaha dan merasa melakukan yang terbaik, baik mana keadaan kita dengan Rosul kita? Tentu kita sepakat Muhammad adalah yang terbaik dari seluruh umat manusia? Jika ukuran kesusahan dan kesedihan yang menimpa kita sebanding dengan kebaikan kita, mestinya Nabi Muhammad adalah orang yang paling terhindar dari marabahaya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, kesusahan, kesedihan kesakitan dan kekecewaan yang disebabkan oleh tingkah polah orang disekitar kita terhadap kita tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang menimpa Nabi. Tentu anda tahu, bagaimana Nabi dilempari batu, kotoran unta dicaci maki, dikhianati dan diperangi oleh kaumnya. Bahkan orang yang datang belakang, tidak pernah melihat atau bertemu Nabi ikut mencacinya.” Teman saya diam saja.

“Jika kita memahami tentang kehidupan , sebenarnya kehidupan ini semuanya adalah ujian. Apa yang terjadi pada diri kita baik itu berupa kebaikan atau keburukan semuanya adalah ujian. Namun kebanyakan kita memahami ujian itu hanya sesuatu yang membuat kita sedih, susah, celaka, dan kecewa saja. pokoknya sesuatu yang tidak mengenakkan bagi kita. Sementara jika kita mendapatkan kemudahan, keberlimpahan, kesehatan dan semua yang membahagiakan kita menyangka bukan ujian tetapi karunia dan kasih sayang Allah. Padahal ini semua juga ujian, bagaiman kita bersikap dalam menerima karunia itu. Padahal jika Allah sayang pada hambanya, jika Allah ingin mengangkat kedudukan hambanya, jika si hamba tidak mampu mulia dari amal yang dilakukannya, maka Allah akan memberinya ujian ujian kesusahan, kekecewaan dan kesedihan. Allah akan mengangkat derajatnya lewat kesabaran si hamba. Allah akan membersihkan dosa si hamba dengan malapetaka dan kesusahan hidupnya. ”

“Jadi, bagaimana seharusnya kita bersikap?”
“Jika kita ingin hidup bahagia, aman, tentram, damai dan sejahtera, anggaplah hidup ini sebagai panggung sandiwara. Perankan dengan baik bahkan yang terbaik peran yang akan kita ambil. Kemudian apapun yang terjadi pada diri kita baik yang berasal dari kondisi lingkungan maupun orang-orang yang ada disekitar kita, anggaplah itu memang sessuatu yang mesti ada, sebagai penegasan peran yang kita ambil. Jika kita memiliki pandangan demikian maka tidak akan pernah membeci orang yang berperan sebagai orang judes kepada anda. Kita tidak akan marah terhadap orang yang tidak membayar hutangnya pada kita. Kenapa? Karena orang itu memang disuruh oleh sang sutradara untuk berperan pengemplang uang kita. Kenapa kita marah kepadanya. Kalau toh kita mau marah mestinya marahnya pada sang sutradara. Jika kita tidak terima dengan perlakuan peran si pengemplang uang kita, berarti kita bukan seorang pemain yang baik. Sebagai resikonya kita digolongkan sebagai pemain yang tidak baik. Tidak kompeten dan kita akan mengalami kekecewaan dan penderitaan karena sikap si pengemplang. Jika kita kemudian jatuh tersungkur karena sikap si pengemplang jangan salahkan mereka. Itu salah kita sendiri, karena kita salah mengambil sikap”
“ oh lantas, jika di dholimi orang lain kita, pasrah, diam saja dan bersyabar?”
“ Ya, tidak begitu. Kita tetap berusaha agar uang kita kembali, dengan cara yang baik dan hati yang dingin tentunya. Karena bukankah kita ingin mencari ketenteraman dan kebahagiaan hidup? Jika kita mengembangkan sikap amarah, belum tentu uang kita akan kembali namun yang pasti hati kita akan hancur, badan lemas dan pikiran buntu. Kita akan mengidap tekanan darah tinggi dan stroke.Kemalangan yang benar benar membuat diri kita malang. Namun jika kita bersikap dengan hati yang dingin, meskipun uang kita tidak kembali, kita masih bahagia, kita masih mempunyai semangat hidup dan pikiran yang jernih. Dan kita masih punya kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang hilang”
“ Sampean sudah bisa seperti itu?”
“ Belum, kita memang masih terus belajar, memerankan yang terbaik peran yang kita ambil. Permasalahan hidup akan terus kita hadapi selama kita masih hidup. Kita terkadang kalah dan salah bersikap dalam suatu momen. Itu hal yang wajar. Namun yang perlu kita usahakan adalah bagaimana kita bisa lebih banyak berperan yang benar dan terbaik. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah salah.”
“ udah ya, yuk kita makan?!”
Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......

Titik Balik

Selasa, 23 April 2013

Pada perjalan hidup seseorang kadang diliputi suatu peristiwa sedih yang sangat membekas dalam hidupnya. Bagi sebagian orang ternyata peristiwa sedih, kecewa, dan duka ini mampu dijadikan sebagai langkah awal atau titik balik untuk merubah arah kehidupannya. Sehingga peristiwa sedih itu tidak berujung pada duka yang berkepanjangan. Namun berubah menjadi nikmat. Ya tepatnya sengsara membawa nikmat.
Saya memiliki seorang teman yang hanya lulusan SMP namun, cukup sukses dalam hidupnya. Karena penasaran terhadap pencapaian yang dia lakukan maka saya mencoba mengetahui latar belakangnya. Ternyata dia bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang ini dikarenakan rasa marahnya terhadap bibinya.

Ketika masih kecil, dikarenakan sulitnya ekonomi orangtuanya, dia diikutkan bibinya. Ketika ikut sang Bibi kesehariannya adalah mencari rumput dan kayu bakar.Pada suatu hari, ketika dia mau berangkat ke sawah belum sarapan, dia mencahut ketela pohon sang Bibi yang ada dipekarangan belakang rumah, lalu dibakar bersama teman-temannya. Namun kejadian itu diketahui oleh bibinya, dan beliau marah besar. Kata kata kotor dan pedas dari mulut sang Bibi sangat melakui hatinya. Lalu teman saya itu kabur dan pergi ke Jakarta. Hingga akhirnya dia memiliki rumah makan padang yang sangat laris.
Ketika merenungi hidup saya ternyata, disepanjang perjalanan, saya sering menggunakan kekecewaan dan kesedihan sebagai titik balik. Saya menjadikan peristiwa-peristiwa sedih yang menimpa pada diri saya sebagai pembangkit energy sehingga seakan saya tidak kekurangan energy tidak kekurangan semangat untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.
Ketika mendapati saya dilahirkan dari keluarga miskin, saya terpacu untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Energy yang muncul dari semangat ini memunculkan ide untuk menjadi seorang sarjana. Untuk menggapai keinginan tersebut muncullah tekad yang luar biasa yang mampu menumbuhkan semangat belajar yang tinggi. Saya tidak peduli berapa lama dan berapa sering saya harus belajar. Saya bawa buku kemana mana. Sambil mengembala kambing, mencari kayu bakar, menyangkul di sawah buku selalu menyertai saya. Sehingga sampai-sampai saya dijuluki sebagai professor. Julukan Professor itu bukannya menyurutkan saya untuk belajar, namun justru mendorong saya terus giat belajar. Julukan professor itu mendorong saya mengerik rambut di dahi saya. Sehingga nampak lebih lebar bak Professor beneran.
Ketika, saya duduk di kelas satu semester satu Madrasah Aliyah ( setingkat SMA ), saya mendapatkan masalah. Nilai olah raga di rapor hanya 5. Ketika saya konfirmasi ke guru olah raga, katanya karena saya tidak ikut ujian olahraga. Padahal saya merasa ikut ujian olah raga.Namun diakhir pertemuan sang guru mengingatkan ke saya, jika nilai olah ragaku nanti di semester 2 dapat 5 lagi maka saya tidak akan naik kelas.
Saya mengartikan peringatan ini sebagai ancaman. Saya mengartikan guru ini dendam kepada saya, terhadap kejadian salah nilai ketika di Madrasah Tsanawiyah ( setingkat SMP). Karena tidak nyaman dengan ancaman itu akhirnya saya pindah ke sekolahan lain. Ternyata disekolah baru ini saya mendapatkan nikmat. Saya langsung menjadi rangking satu dari kelas satu sampai kelas 3. Saya menjadi rangking satu itu bukan karena saya pintar tetapi karena teman-teman yang dibawah setandar. He he he.. Namun kepuasan mendapat rangking 1 itu tidak menyurutkan saya untuk terus dan terus belajar, karena target saya bukan disini. Target saya adalah perguruan tinggi negeri.
Kejadian lain adalah ketika saya mendapatkan rasa malu yang luar biasa. Bagaimana gak malu saya tidak bisa ngomng apa-apa ketika disuruh maju kedepan sewaktu latihan pidato. Ya Allah, ngomong didepan teman sendiri saja tidak bisa keluar. Dada bergemuruh seakan mau meledak. Kejadian ini membuat semangat saya bangkit. “Lip, katanya kamu ingin jadi sarjana. Lalu sarjana macam apa jika kamu tidak bisa bicara didepan umum. Bagaimana kamu bisa menjadi pemimpin, jika tidak bisa bicara didepan umum?” kata-kata itu terus mengiang-ngiang dalam hatiku, sehingga mampu mendorongku untuk terus dan terus latihan pidato. Sebagai endingnya saya dipilih membawakan sambutan sebagai wakil kelas 3 ketika pelepasan murid kelas 3, dihadapan rastusan orang. Padahal banyak teman-temanku yang ahli dalam berpidato.Dan yang lebih menyenangkan, ketika turun dari podium ada kata-kata yang menyejukkan dari seorang ibu dari adik kelas yang dulu sempat saya taksir. “ Nak, Pidatomu bagus”
Kejadian berikutnya adalah komentar yang jelek dari teman saya sewaktu di Madrasah aliyah. “ Lip, kamu memang pintar, tapi kamu angkuh dan sombong.”. Komentar ini laksana petir ditelinga saya. “angkuh dan sombong” benarkah saya demikian? Jika saya angkuh dan sombong apa modal saya? Saya anaknya orang gak punya apa yang saya sombongkan? Apa itu mungkin karena sipat pndiam saya, sehingga saya tidak mau bergaul akrab dengan teman-teman. Apa itu karena saya tidak mau diajak mbolos sekolah? Atau itu karena saya tidak mau dicontekin? Namun dalam hatiku sebenarnya aku juga ingin mempunyai teman, pergi bersama-sama, bercanda-canda layaknya anak muda lainnya. Namun saya tidak mau mengorbankan masa depanku dan cita-citaku. Bagiku satu-satunya cara agar aku bisa kuliah adalah masuk diperguruan tinggi negri lalu mendapat biasiswa.
Namun, kata-kata itu mampu membuat diriku berubah dari pendiam menjadi ceria, bersahabat dengan teman-teman, setelah saya menemukan jawabannya dari sebuah buku “bahasa perasaan”. Saya teringat dalam buku tersirat kalimat”Janganlah kamu mengatakan seseorang itu sombong atau angkuh sebelum kamu menyapanya. Jika setelah kamu menyapanya tapi dia tidak membalas sapaan kamu, baru kamu bisa mengatakan dia itu sombong dan angkuh”. Ahai, saya menemukan jawabanya. Ternyata selama ini saya pendiam dan salah dalam mengamalkan sebuah Hadist yang berbunyi. “jika kamu tidak bisa berkata baik lebih baik diam” Sejak itu saya mulai menyapa orang lain. Dan sebagai endingnya, ada kata kata yang menyejukkan dari seorang adik kelas setelah setengah tahun tidak bertemu” Lip, makan apa aja selama ini. Sungguh kamu telah berubah banyak.”
Kejadian ke lima, ketika saya bekerja. Diawal-awal saya bekerja, tempat kerja saya bagaikan neraka saja layaknya. Saya bekerja disebuah perusahaan kecil, dimana, pemiliknya suami, istri dan orang tuanya bekerja disana. Namun si istri mempunyai temperamen tinggi. Orangnya gugupan, mudah marah dan kiler. Banyak orang yang tidak bisa bekerja sama dengan dia, termasuk saya. Hampir setiap malam saya mimpi buruk, sampai sampai kakak saya menyarankan untuk pindah kerja saja.
Namun kejadian ini saya menantang saya. “Saya harus bisa menaklukkan dia.” Tekad saya dalam hati. Lalu saya bekerja sebaik mungkin. Saya mengerjakan apa saja. saya berusaha dengan keras bagaimana agar perusahaan ini bisa berkembang dan maju. Akhirnya sang suami suka dengan kerja saya. Pada saat itulah sang istri tidak bisa berbuat semena-mena dengan saya, sehingga saya minta pada sang suami agar sang istri kerja dirumah saja. sejak saat itu perusahaan terasa adem ayem penuh dengan kedamaian.
Itulah beberapa kisah sedih, yang jika kita menyikapinya dengan cara yang baik, bukan menjadikan kesedihan yang berkepanjangan. Namun justru mampu menjadi titik balik dalam hidup untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Jadi jika anda mengalami kepahitan, dan kegetiran hidup, jangan bersedih. Jadikan apa yang anda alami itu sebagai penyemangat hidup. Jadikan semua itu sebagai energy yang tiada habisnya untuk menggapi kehidupan yang lebih baik.
Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......