Tampilkan postingan dengan label kartu kredit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartu kredit. Tampilkan semua postingan

Terjebak Kartu Kredit

Senin, 08 Maret 2010

Sabtu yang lalu tepatnya tgl. 6 Maret 2010, saya kedatangan tamu teman lama. Teman saya ini sebenarnya hanya lulusan STM, namun otaknya encer dan pekerja keras. Sehingga diusianya yang relatip masih muda dia sudah memiliki rumah yang diidam-idamkannya. Dia sudah mempunyai rumah sebelum nikah.

Semenjak dia sudah memiliki rumah dan pekerjaan tetap (sebagai karyawan di salah satu perusahaan Jepang) hidupnya terasa aman dan nyaman. Seakan sudah tidak ada yang ingin diraih lagi.

Tidak berapa lama setelah menikah, dia dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun sayang istrinya tidak bisa mengeluarkan Asi untuk meneteki anaknya. Sebagai bapak yang bertanggungjawab dan ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, dia memberikan susu formula yang mahal yang diannggapnya dapat sebagai pengganti Asi.

Suatu saat ketika sedang jalan-jalan di mall, dia mendapat penawaran kartu kredit.”Proses cepat tanpa berbelit” kata salesmen kartu. “ A ha. Ini yang aku cari. Ini bisa dipakai untuk mengatasi solusi keuangan saya” katanya dalam hati. Tanpa pikir panjang akhirnya dia mengambil kartu tersebut.

Diawal-awal pemakaian kartu kredit, dia merasa nyaman. Ketika melakukan belanja cukup besar dia selalu berkata dalam hati “ kan bisa dicicil”. Akhirnya suatu ketika tanpa dia sadari utang kartu kreditnya cukup besar, sehingga melebihi limitnya. Pada saat yang sama dia ditawari kartu kredit lain. “ Jika punya dua kartu enak kali ya. Yang satu habis limitnya yang satu masih ada. Atau bisa ambil uang dari kartu satu untuk membayar kartu yang lain.” Pikirnya dalam hati.

Begitulah, tanpa disadari dia sudah mempunyai 4 kartu kredit yang semuanya sudah habis limitnya dan minta dibayar. Mulailah kehidupannya kacau, karena ditagih oleh debt collector. Istrinya tertekan dia sendiri terguncang. Hingga kini hutangnya belum bisa terselesaikan dia lari dari kejaran debt collector. Hidupnya menjadi tidak nyaman dan merasa terancam.

Pembaca, kartu kredit memang ada segi positipnya, namun jauh lebih banyak mudhorotnya. Jika anda termasuk orang yang konsumtip, hindari pemakaian kartu kredit jika anda tidak ingin berurusan dengan debt collector. Jika anda ingin mencari kepraktisan kartu kredit, anda bisa menggunakan kartu dibet. Kenapa? Karena emosinya berbeda. kartu kredit akan semakin membuat anda konsumtip. Karena anda berpikir bisa dicicil. Sehingga tanpa anda sadari anda akan terjebak dalam hutang.
Tetapi jika anda menggunakan kartu dibet, anda sebenarnya membayar tunai. Jika tidak ada uang di kartu anda tentu anda tidak bisa berbelanja. Ini akan mengerem kesukaan anda berbebelanja.

Yang lebih parah lagi, pemakai kartu kredit diiming-imingi dengan discount. Terkadang saya pikir memang kurang ajar, orang yang ngutang diberi kemudahan dan discount sementara yang bayar tunai tidak diberi apa-apa. Memang barang racun jika tidak dikemas dengan menarik tidak akan ada yang mau menyentuh.

Hidup hanya sekali, berbahagialah. Bebaskan diri anda dari hutang. Biarlah keadaan anda sederhana, tidak terlihat kaya, hidup apa adanya. Namun anda nyaman dan terbebas dari hutang. Anda jangan sampai termakan oleh provokasi yang menyatakan” Hutang akan membuat hidup dinamis dan bersemangat”. Ini salah besar. Sungguh kasihan. Anda bersemangat mencari harta karena anda dikejar hutang. Carilah pendoring semangat yang lebih baik dan mulia. Jika utang anda untuk membeli asset yang mendatangkan income yang dapat membayar utang anda, itu bisa dipertimbangkan. Namun berutang untuk hidup konsumtip agar terlihat seperti orang kaya jangan dilakukan.

Apalagi jika anda mempunyai kartu kredit biar terlihat sebagai orang modern. Dompet penuh kartu kredit. Ah itu kuno. Anda kelihatan kaya hanya karena simbul-simbul yang menyesatkan. Sadarlah, buat apa simbul-simbul itu? Jangan mau hanya terlihat kaya, tetapi menjadilah orang kaya yang sungguhan. Walaupun dompet anda tidak ada isinya apa-apa, namun jika anda kaya sungguhan anda tetap dianggap orang kaya. Walaupun anda jalan kaki jika anda kaya sungguhan anda dianggap orang kaya yang rendah hati. “ Pak, olah raga ya?”


Semoga bermanfaat.
See you in the top

Baca selengkapnya......