Saya sangat kagum dengan teman saya yang satu ini. Namanya Zainul Arifin. Beliau teman kuliah saya di FMIPA Unair. Ada satu hal yang saya ingat, ketika masih kuliah bersamanya, yaitu lomba mencari pacar. Karena saya dan dia termasuk orang yang tidak mau berpacaran. Alasannya bukan karena takut mengganggu belajar, tetapi takut menganggu anggaran belanja. Karena kami berdua sama-sama berasal dari keluarga miskin. Akhirnya lomba tersebut saya yang memenangkannya.
Lebaran kemarin saya menyempatkan berkunjung ke rumah beliau. Wah ternyata luar biasa. Ada perbedaan yang begitu menyolok. Dulu ketika masih kuliah beliau ini terlihat kurang serius sekolah, prestasi pas-pasan. Namun kini tanpa diduga beliau sudah bergelar Doktor dan menjadi Rektor dari sebuah perguruan tinggi di Jombang, yang beliau dirikan bersama teman-teman.
Bukan itu saja, ternyata diam-diam beliau juga berwirausaha penggemukan sapi dan menanam pohon sengon.
Sebagai orang yang tertarik mempelajari kesuksesan seseorang dan gemar mencari peluang, ternyata bisnis penggemukan sapi cukup menguntungkan. Beliau menawari saya untuk ikut bisnis bersamanya.
Dari hitung-hitungan diperoleh keuntungan bersih 4% per bulan dari modal yang ditanam. Untuk memiliki seekor sapi perlu modal kira-kira Rp. 10.000.000,- karena sapi yang digemukkan bervarietas unggul.
Keuntungan bisa diperoleh tiap 3 bulan sekali per ekor sapi. Dengan demikian jika kita mempunyai 3 ekor sapi tiap bulan bisa mengambil keuntungan kurang lebih Rp. 1.200.000,- tanpa kita bekerja sama sekali. Berarti lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan bunga bank yang hanya 6 % pertahun.
Semoga bermanfaat.
See you in the top
Sang Rektor si Penggembala Sapi
Posted by Unknown at 06.00 8 comments
Labels: FMIPA Unair, Jombang, keuntungan, lebaran, pacar, penggemukan sapi, rektor, sengon., Stikes, usaha sapi, Zainul arifin
Kisah Toko Grosir dengan modal awal hanya Rp. 500.000,-
Beberapa minggu yang lalu saya silaturahmi ke rumah teman menunauikan ibadah haji. Wah ternyata ada perubahan yang sangat signifikan pada usaha yang selama ini beliau jalankan.
Haji Hambali, begitulah nama beliau orangnya pendiam, namun dari pendiamnya tersebut ternyata menyimpan potensi wirausaha yang luar biasa. Bagaimana tidak hanya dalam kurun waktu 5 tahun usaha toko grosir, yang dijalankan dari modal hanya Rp. 500.000,- itu kini asetnya sudah lebih dari Rp 350 juta. Ditambah lagi beliau dan istri sudah menunaikan haji.
Diawal perjalanan usaha beliau sempat terhenti, karena usaha beliau menawarkan barang ke toko kelontong disekitar rumahnya gagal. Dalam kondisi semangat sedang menurun Allah mengirimkan pertolongan, ada salah satu tetangganya berniat kolakan ketempat beliau. Karena modal yang cekak tersebut maka, agar dapat bersaing dengan toko grosir yang ada dipasar yang tidak jauh dari rumahnya, belaau berani tidak mengambil untung. Jadi praktis kerja bakti.
Transaksi pertama tersebut cukup memberi semangat dan inspirasi., Akhirnya berkat keuletan dan keramahan beliau dalam menawarkan dagangannya dan melayani pelanggan, satu persatu pelanggan mulai didapatkan. Beliau membawa dan menawarkan dagangannya menggunakan motor. Cara ini untuk mensiasati agar pelanggan tidak tahu bahwa beliau hanya bermodal cekak.
Kemudian dengan konsep, hidup sederhana dan menahan segala keinginan, keuntungan yang diperoleh digunakan untuk menambah modal. Maka tidak heran dalam waktu relative singkat , 5 tahun modal yang hanya Rp. 500.000,- bisa menjadi Rp. 350 juta lebih.
Kesederhanaan beliau tercermin dari ketika beliau naik haji, saya perhatikan beliau tidak membeli barang yang mahal-mahal. Bahkan saya sering memergoki belaui dan istri cukup makan mie instant saja yang dibawah dari tanah air.
Yang lebih menarik lagi. Walau kini beliau terbilang sudah cukup sukses namun beliau belum mau menikmati hasilnya untuk membeli mobil, yang sudah menjadi” ikon” agar terlihat kaya.
Ya saya yakin, tanpa disadari beliau telah menerapkan prinsip “ingin menjadi kaya bukan kelihatan kaya”.
Dari kisah singkat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ;
1. Untuk berbisnis tidak mesti memerlukan modal besar, walaupun nampaknya usaha tersebut diharuskan memerlukan modal besar asal anda mau dan tahu caranya.
2. Agar bisnis cepat berkembang anda harus berani hidup sederhana dan menunda menikmati hasil usaha anda.
3. Kemauan mengalahkan segalanya baik itu kemampuan maupun pengetahuan. Betapa banyak orang yang mampu dan mengetahui cara melakukannya namun mereka tidak mau bertindak
Demikian, semoga bermanfaat.
See you in the top
Posted by Unknown at 08.12 1270 comments
Labels: berkembang, bersaing, cekak, grosir, hambali, kaya, kemauan, kisah, modal kecil, toko grosir, usaha sapi
Seperti Apa Anda Mengukir Sejarah?
Ditulis oleh: Anne Ahira
"The difference between a successful
person and others is in a lack of will"
~ Vince Lombardi, Football Coach
Mualib, kebanyakan manusia cukup puas
hanya dengan...
Lahir - Hidup - dan lalu meninggal.
Hingga akhirnya yang tertinggal hanya
tiga baris di batu nisannya :
Si X, lahir tanggal sekian, dan meninggal
tanggal sekian!
Inginkah Mualib menjalani hidup apa
adanya seperti itu?
Seperti apa Mualib mengukir sejarah?
Ada 3 hal yang bisa membedakan Mualib
dengan kebanyakan orang dalam mengukir
sejarah, yaitu...
Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan.
1. Kemauan
Kemauan menjadi kata kunci yang paling
penting dalam menentukan sejarah hidup
Mualib.
Mualib mau menjadi apa? Seperti apa? dan
di mana? Tentunya hanya Mualib yang
paling mengetahuinya!
Cobalah catat semuanya. Baik itu
melalui memori, diary, atau melalui
selembar kertas sekali pun! Mualib pasti
punya kemauan!
Jangan pernah katakan Mualib tidak punya
kemauan. Hidup itu terlalu pendek untuk
disia-siakan.
2. Keilmuan
Percaya, segala sesuatu itu pasti ada
ilmunya! Jika Mualib punya kemauan dan
memiliki ilmunya, maka segala usaha
akan tercapai dengan lebih baik.
Itu sebabnya Mualib harus mau belajar
dan belajar. Mualib bisa belajar dimana
saja, kapan saja, dan dengan siapa
saja.
Ingat, tidak pernah ada kata terlambat
untuk belajar, mengenal, memahami, dan
mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat
bagi kehidupan Mualib, begitu juga bagi
orang lain.
Dan satu lagi....
3. Kesempatan
Jika kemauan ada, keilmuan ada, maka
tinggal kesempatanlah yang memutuskan
apakah Mualib bisa mengukir sejarah
dengan baik atau tidak.
Kesempatan ini bisa datang dari mana
saja, tergantung kecekatan Mualib dalam
memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Kita tahu, seringkali kesempatan itu
hadir, tapi kita tidak mampu
memanfaatkannya dengan benar, karena
keilmuannya kurang, meski keinginan
kita itu sebenarnya sudah besar.
Jika ini terjadi, tidak jarang orang
menyesal dan kadang menjadi berfikir
bahwa nasib selalu tidak berpihak
padanya.
Sebenarnya tidak demikian Mualib! Dia
hanya tidak tahu bagaimana cara
menyatukan 3K! Yaitu...
Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan!
Nah, sekarang Mualib tahu, apa yang
harus dilakukan untuk bisa mengukir
sejarah dengan baik dalam hidup Mualib!
Padukan antara kemauan, keilmuan dan
kesempatan. Jika kemauan sudah ada,
keilmuan sudah ada, maka kesempatan itu
sebenarnya bisa dicari dan diupayakan!
Dan percaya... ketika ketiga unsur ini
berpadu dalam hidup Mualib, maka sejarah
kebesaran tentang Mualib telah dimulai. :-)
Selamat mencoba!
Posted by Unknown at 17.02 7 comments
6 Kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin
Secara alami apa yang terjadi didunia ini mengikuti hukum alam, yaitu sebab akibat. Kecuali jika ada penetrasi dari luar maka hukum tersebut tidak berlaku. Namun anda harus secara terus menerus memberikan pengaruh dari luar tersebut tanpa henti. Begitu pengaruh dari luar dihilangkan, maka akan kembali mengikuti hukum alam.
Begitu pula manusia juga tunduk terhadap hukum alam. Maka apa yang kita tabur, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita lakukan itulah yang akan diterima.
Dengan mengikuti hukum tersebut, kita dapat mempelajari , kenapa seseorang menjadi kaya, sementara yang lain miskin. Setelah diamati ternyata ada perbedaan perilaku atau kebiasaan yang menyolok antara orang kaya dan orang miskin. Dan kebiasaan-kebiasaan itulah yang menyebabkan seseoarng menjadi kaya. Dengan demikan jika anda melakukan kebiasaan-kebiasan tersebut maka anda berada pada jalur yang benar menuju keberlimpahan harta.
Setidaknya ada 6 kebiasaan yang dilakukan oleh orang kaya yang tidak dilakukan oleh orang miskin, yaitu
1. Menunda kenikmatan,
Orang kaya mampu menunda menikmati apa yang mereka peroleh untuk mendapatkan yang lebih besar. Kita sering mendengar bagaimana perjuagan orang non pribumi sehingga mereka mampu menguasai perekonomian kita. Ketika mereka masih dibawah mereka cukup makan bubur seadanya walaupun sebenarnya mereka mampu untuk makan yang lebih mewah. Mereka juga rela hidup dirumah yang sempit, meskipun mereka mampu tinggal dirumah yang lebih besar. Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin membangun atau mengembangkan pendapatan yang lebih besar lagi. Mereka ingin menjadi kaya bukan kelihatan kaya.Nanti pada saatnya, baru mereka menikmati apa yang diusahakan selama ini.
Kebiasaan ini berbeda dengan orang pribumi yang kebanyakan miskin. Orang pribumi jika memperoleh penghasilan, bingung ingin segera membelanjakannya. Membeli baju baru, membeli TV yang lebih besar, membeli kendaraan dan lain sebagainya yang sifatnya konsumtip.
Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin segera menikmati apa yang diusahakannya. Atau mereka ingin segera dipandang sebagai orang yang berhasil atau kaya. Namun pada akhirnya kehidupan mereka bukannya terus membaik tetapi sebaliknya justru malah menurun atau mandek. Karena mereka tidak berusaha membangun atau mengembangkan pendapatan dari hasil yang mereka peroleh. Tetapi hasil yang diperoleh habis untuk belanja barang konsumtip untuk memenuhi keiinginannya biar kelihatan kaya.
2. Kerja keras
Orang kaya sanggup dan mampu bekerja keras, karena mereka paham akan hukum alam. Siapa yang menabur akan menuai. Siapa yang menabur banyak akan menuai banyak. Dengan demikian siapa yang kerja keras akan mendapatkan hasil yang banyak.
Sementara orang miskin berpikir sebaliknya. Mereka inginnya kerja sedikit tetapi menedapatkan hasil yang besar. Mereka tidak mau diserahi tanggung jawab yang besar, tetapi mereka ingin gajinya terus naik. Meskipun mereka kerja banting tulang memeras keringat, karena mereka kerja kasar, seperti buruh bangunan atau buruh pabrik, mereka bukan kerja keras, namun sebenarnya mereka adalah pemalas. Mereka malas berpikir, malas mengembangkan kariernya dan malas menerima tanggungjawab yang lebih besar. Akhirnya mereka menerima kariernya mandek. Jika ada orang mempertanyakan tentang sikapnya itu mereka menyalahkan pihak lain.
3. Hemat
Orang kaya itu hemat, sementara orang miskin itu boros. Kelihatanya pernyataan kurang tepat. Namun begitulah kebenarannya. Orang dikatakn boros apabila sebagain besar atau seluruh penghasilannya habis dibelanjakan. Jika seseorang mempunyai penghasilan Rp. 1000.000,;perbulan dan semuanya habis dibelanjakan maka dia itu dikatakan boros. Sebaliknya jika seseorang mempunyai penghasilan 10 milyar perbulan lalu mereka membeli BMW seharga 1,5 Milyar, dia tidak dikatakan boros. Walaupun yang dibelanjakan nilainya besar namun pendapatannya jauh lebih besar.
Orang kaya dalam membelanjakan uangnya, selalu dikaitkan dengan segi manfaat dan keuntungan. Semantara orang miskin mementingkan gengsi.
4. Tidak mudah merasa puas.
Ada perbedaan antara merasa puas dan bersyukur. Merasa puas terkesan akan mandek dan tidak mau berusaha lagi. Sementara bersyukur, terkesan menerima hasil yang diperoleh dengan senang hati, namun tetap berusaha , bekerja dan berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar lagi.
Kadang pemahaman kita salah, orang kaya itu rakus dan serakah dan orang miskin itu menerima dan mengalah. Apa benar demikian?
5. Menghargai uang sekecil apapun.
Sepintas kebiasaan yang kelima ini sama dengan hemat atau kebiasaan ketiga. Tetapi sebenarnya berbeda. Perbedaannya adalah hemat berkaitan dengan pengeluaran uang sedangkan menghargai uang sekecil apapun, berkaiatan dengan pendapatan.
Orang miskin perpendapat buat apa uang satu rupiah atau dua rupiah, bikin capek saja. Namun orang kaya berpendapat, jika uang seperak dikalikan 1 juta maka akan jadi besar. Atau uang Rp 9999 tidak dikatakan Rp 10.000, walau kurang 1 rupiah saja.
6. Tidak malu, kerja apapun akan dikerjakan tidak pilih-pilih
Orang kaya tidak mengenal malu mengerjakan sesuatu jika itu baik, halal dan mengahasilkan. Namun orang miskin, pilih-pilh dan mengutamakan gengsi. Karena itu kebanyakan orang miskin itu bekerja. Mereka pikir bekerja itu lebih terhormat apalagi jika memiliki jabatan. Saya mempunyai teman seorang mantan direktur suatu perusahaan. Karena perusahaannya bangkrut maka terkena PHK. Karena usianya sudah cukup berumur maka dia mengalami kesulitan mencari kerja ditempat lain. Akhirnya memutuskan untuk usaha sendiri. Walaupun usahanya cukup lumayan, tetapi dia tidak merasa puas, apalagi jika ditanya anaknya. “ Bapak ini kerja apa sih dan jabatanya apasih. Kok dirumah terus.” Hatinya terasa teriris-iris.
Apakah 6 kebiasaan ini sudah anda lakukan?, Selamat anda berada dijalur yang benar menuju hidup berkelimpahan. Jika 6 kebiasaan tersebut belum menjadi kebiasaan anda maka segera biasakan sebelum terlambat. Percayalah anda akan menjadi orang yang kaya. Saya pribadi sudah mempraktekannya. Dan kehidupan saya alhamdulillah penuh dengan keberkahan
Demikan semoga bermanfaat.
See you in the top
Posted by Unknown at 10.07 1 comments
Labels: dia menuai, harta, hemat, hukum alam, kaya, keberlimpahan, kebiasaan, malu, miskin, penetrasi, petik, puas, siapa menabur