Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan

Investasikan Waktu Anda

Senin, 02 Januari 2012

Beberapa hari yang lalu saya mengajak teman teman pergi ke Rangkas Bitung untuk melihat tanah yang akan dijual disana. Dalam perjalanan, banyak tema yang diperbicangkan. Namun kebanyakan pembicaraan hanya berupa gurauan saja. Ditengah pembicaraan itu saya menyelipkan gurauan. “ Coba tebak apa beda Doketr gigi dan Pelawak”. Teman-teman pada diam. Mungkin mereka pada memikirkan perbedaan Dokter gigi dan Pelawak.

“Beda antara Dokter gigi dan Pelawak sangat tipis, jika Dokter gigi mencari uang dengan cara mengobok-obok mulut orang lain sedangkan pelawak mencari uang menggunakan mulut dia sendiri”. Kataku kemudian , disambut ketawa oleh teman-teman.
Kemudian saya mengajukan gurauan yang serius kepada teman-teman.” Apa beda orang kaya dan orang miskin” Kali ini banyak versi jawaban dari teman-teman. Karena jawabannya tidak mengena dengan apa yang ada di benak saya, akhirnya saya jawab sendiri . ” Orang Kaya menggunakan harta dan waktunya untuk diinvestasikan sedangkan orang miskin menggunakan harta dan waktunya untuk dihabiskan”
Dari gurauan diatas berkembanglah pembicaraan yang menarik. Ada yang mengatakan “ ya, jika orang miskin melakukan investasi harta dan waktunya bukan orang miskin, tapi orang kaya. Itu sudah merupakan difinisi”



“ Iya. Bagaimana orang miskin melakukan investasi, hartanya untuk makan saja masih kurang, sedang waktunya habis untuk bekerja”
Ada juga yang mengatakan”JIka semua harta di dunia ini dikumpulkan lalu, dibagikan sama rata kepada semua orang, tidak berapa lama akan tercapai keadaan seperti semula. Harta akan kembali kepada orang yang kaya, sebelum terjadi pengumpulan harta. “

Namun tidak ada yang sampai pada pernyataan” ternyata mudah ya untuk menjadi kaya. Kita hanya perlu merubah kebiasaan menghabiskan harta dan waktu menjadi menginvestasikan harta dan waktu yang kita miliki. Jika saat ini kita belum memliki harta untuk diinvestasikan, kita berusaha menggunakan waktu untuk diinvestasikan. Karena sewaktu dilahirkan semuanya orang sama, tidak mempunyai apa apa. Allah hanya membekali waktu 24 jam sehari.

Kita menggunakan waktu diluar jam kerja untuk menambah keterampilan, pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan. Kita selalu berusaha mencari cara termudah dan tercepat meningkatkan penghasilan. Setelah penghasilan kita meningkat meskipun sedikit, kita mulai memi9kirkan investasi dengan menabung terlebih dahulu. Pada keadaan ini, jangan pernah kita berfikri untuk membelanjakan uang dari peningkatan penghasilan, untuk meningkatan gaya hidup. Kita mesti berani bergaya hidup sama seperti penghasilan belum meningkat. Kita mesti kuat, menahan godaan baik dari diri, anak maupun istri untuk membelanjakan harta yang kita tabung. Kita kuatkan niat, bahwa tabungan kita hanya untuk investasi atau keadaan yang amat sangat darurat.”

Tapi sayang untuk merubah kebiasaan menghabiskan menjadi investasi itu sangat sulit. Betapa sering saya menasehati karyawan-karyawan saya untuk menggunakan waktu untuk menuntut ilmu dan menambah keterampilan. Namun dia lebih suka untuk menghabiskan waktu untuk bercanda dengan teman, nonton tv sampai larut malam dan akhirnya bangun siang. Akankah hidup mereka akan terus seperti ini? Ya, sampai mereka menyadari akan pen tingnya waktu dan kemudian berusaha untuk diinvestasikan pada hal-hal yang baik untuk kemaujan dimasa mendatang.

Tetapi sebenarnya tidak ada hal yang sulit, selama kemauan anda lebih besar dari kebiasaan yang membelenggu anda. Jika anda mengatakan anda ingin kaya atau ingin sukses, tetapi pada kenyataannya anda tidak sanggup mengubah kebiasaan anda yang menghalangi anda untuk kaya dan sukses, berarti kemauan anda itu bohong. Dan yang lebih mengenaskan anda tidak membohongi orang lain tetapi anda membohongi diri anda sendiri.

See you at the top.
Semoga bermanfaat.

Baca selengkapnya......

Seberapa kuat keinginan anda untuk kaya dan sukses?.

Selasa, 06 April 2010

Sering saya sampaikan, dalam pertemuan-pertemuan, setiap orang jika ditanya “ Apakah anda ingin kaya, Apakah anda ingin sukses?”. Kebanyakan orang tidak percaya terhadap pertanyaan ini. Seakan-akan mereka berkata” Ini pertanyaan bodoh. Jelas dong semua orang ingin kaya dan sukses. Hanya orang gila saja baranglaki yang tidak ingin kaya dan sukses dalam hidupnya.”

Tetapi coba sekali lagi ucapkan pertanyaan itu kepada diri anda sendiri” Apakah saya ingin kaya dan sukses. Ya benarkah saya ingin kaya dan sukses?” ulangi pertanyaan-pertanyyan tadi sampai muncul jawaban yang sebenarnya atau muncul pertanyaan lain.

Jika anda benar-benar ingin kaya dan sukses, sudahkah anda berada dijalan yang menuju ke tempat yang anda inginkan, yaitu kekayaan dan kesuksesan? Jika anda sudah berada dijalan yang benar, anda tinggal menunggu waktu. Artinya kekayaan dan kesuksesan yang anda inginkan tinggal menunggu waktu saja kedatangannya.Ibarat anda dari Jakarta akan pergi ke Cikampek, anda sudah berada di jalan tol Jakarta - Cikampek Anda bisa memprediksinya kapan akan sampai ke Cikampek. Tetapi jika anda tidak berada dijalan yang benar, anda akan mengalami kesulitan untuk memprediksi waktu yang anda butuhkan untuk menjadi kaya dan sukses.

Jika anda tidak berada di jalan yang tepat, namun anda tidak tahu apakah berada dijalan yang tepat atau tidak, atau jika seandainya anda tahu tidak berada dijalan yang tepat tetapi anda tidak mau beranjak mencari jalan yang tepat, bagaimana mungkin anda dapat dikatakan sebagai orang yang ingin kaya dan sukses. Bagaimana mungkin anda dikatakan akan pergi ke Cikampek, jika anda sedang asik main bola?

Keinginan anda itu hanya ilusi, hanya sekedar angan-angan atau mimpi disiang hari. Keinginan ini tidak akan membawa apa-apa. Keinginan ini tidak akan sanggup mengantarkan anda mencapai kekayaan dan kesuksesan yang anda inginkan. Keinginan semacam inilah yang kebanyakan dimiliki orang. Namun sayangnya mereka tidak menyadari, jika memiliki keinginan yang demikian tidak akan bisa mengubah nasib mereka. Sehingga mereka pasrah menerima nasibnya.

Lalu bagaimana dengan keinginan kaya dan sukses yang anda miliki?. Apakah anda termasuk kelompok diatas atau kelompok yang lain, dimana keinginan bukan sekedar keinginan. Tetapi keinginan yang mampu mengahdirkan semangat, mau menerima penderitaan, mau mengorbankan apa yang dimiliki, baik harta, waktu, tenaga maupun kesenangan yang biasa nikmati.

Jika anda ingin tahu berada dikelompok yang mana. Coba ingat-ingat, seberapa besar kesengsaraan, kepedihan yang mampu anda tanggung? Seberapa besar pengorbanan yang mampu anda keluarkan sebagai ganti dari kekayaan dan kesuksesan yang anda inginkan. Semakin besar pembayaran yang anda lakukan akan semakin besar pula kekayaan dan kesuksesan yang akan anda peroleh.

Namun anda juga mesti ingat, diperlukan kecerdasan didalam membayar kekayaan dan kesuksesan. Jika anda hanya membayarnya dengan kekuatan fisik, hanya sedikit kekayaan dan kesuksesan yang dapat anda raih. Karena waktu dan tenaga anda terbatas. Namun jika anda menggunakan kekuatan akal dan ilmu anda dapat melipat gandakan kekuatan tenaga dan waktu anda. Kuncinya ada pada apa yang anda ketahui dan lakukan.

Saya dapat menjadi seperti sekarang ini, bukan suatu kebetulan atau keberuntungan semata. Tetapi saya telah membayarnya dengan belajar tanpa henti, sekolah dengan jalan kaki padahal jauhnya 6 Km lebih, kuliah dengan tidur di Mushola, makan 1 - 2 kali sehari, rasa malu, pedih dan perih. Namun alhamdulillah, semuanya tidak saya rasakan sebagai penderitaan. Sehingga pengorbanan apapun yang saya lakukan selama ini tidak ada apa-apanya. semuanya biasa-biasa saja. Tetapi yang terpancar dan terekam hanya kemudahan demi kemudahan. keajaiban demi keajaiban. Keberuntungan demi keberuntungan. Memang Allah Maha Kasih dan Pemberi. Bahkan seakan saya tidak melakukan apa-apa. Hanya karunia Allah lah saya bisa seperti ini.

Anda ingin seperti ini? bertindak, berkorban dan berdoalah. Insya Allah Keajaiban akan menghampiri anda.

Semoga bermanfaat
See you at the top

Baca selengkapnya......

Kehidupan yang besar selalu dimulai dari impian yang besar

Kamis, 31 Desember 2009

“ Saya juga ingin kaya dan sukses. Tetapi bagaimana caranya. Saya ini ibarat orang yang berada dilumpur hidup. Saya ingin keluar tapi tidak tahu harus bagaimana. Bergerak ee malah tenggelam” begitu kira-kira jawaban orang ketika ditanya kenapa kok kelihatannya karier dan pendapatan diam ditempat,

Saya jadi teringat ketika pertama kali ke Jakarta setelah lulus kuliah. Puluhan surat lamaran telah disebar namun sudah 3 bulan lewat belum ada juga surat panggilan yang datang. Ada juga panggilan tes namun tidak lulus. Selama 3 bulan itu saya numpang ditempat kakak saya. Ya walaupun saudara namun perasaanku tidak enak. Bagaimana tidak, seorang sarjana namun kebutuhan sehari-harinya disubsidi oleh kakak yang hanya lulus SMA. Rasanya malu sekali. Tetapi bagaimana? Saya harus bagaimana? Bukankah saya tidak tinggal diam. Begitulah kira-kira, hati ini ingin segera terlepas dari ketergantungan dan beban orang lain. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang saya tahu adalah melamar pekerjaan dan menunggu jawaban. Hanya itu. Lumpur hidup telah mengurungku.

Tetapi makin lama perasaan saya tidak kuat menahan rasa malu dalam hati. Akhirnya ketika motor kakak ada dirumah, saya membawanya keluar.”Saya akan jadi tukang ojek. Yah kerjaan apapaun tidak masalah”. Kakatu dalam hati. Tidak berapa lama mangkal ada seseorang datang. “ Ojek dik. Tolong antarin keluar ya” kata laki-laki setengah baya itu. “Baik pak” kataku agak gugup, maklum baru kali ini saya menjadi tukang ojek.

Namun apa yang terjadi kawan, ketika penumpang sudah naik tetapi motor tidak bisa jalan. Sudah saya coba menarik gas sekencang-kencangnya namun motor tetap saja diam ditempat. “ Maaf pak, coba turun dulu” kataku agak gugup. Penumpang turun, lalu motor saya jalankan. Motor bisa berjalan dengan lancar. “Silahkan pak” kakatu kemudian. Namun ketika penumpang naik lagi, motor tidak mau jalan lagi. “ya Allah kenapa jadi begini. Mau keluar dari ketergantungan orang lain saja sulitnya bukan main.” Kakatku dalam hati. “ Maaf pak, kelihatannya motornya tidak mau diajak cari duit. Silahkan cari yang lain saja” Kataku sambil menunduk malu, lalu pulang dengan tangan hampa. ( eh mungkin itu malaikat kali ya, yang tidak menghendaki saya jadi tukang ojek. Apa jadinya jika waktu itu saya berhasil jadi tukang ojek. karena setelah kejadian itu saya mendapat pekerjaan dan mengantarkan saya seperti sekarang ini)

Ya, begitulah kawan. Sulitnya keluar dari jeratan masalah. Saat itu hanya itu yang aku tahu. Melamar pekerjaan dan menjadi tukang ojek. Namun dua-duanya gagal. Saat itu saya tidak mengenal dan tidak terpikir cara lain kecuali itu. Dagang?. Belum terlintas sama sekali. Tetapi kalau toh terlintas mau jualan apa? Tetapi apa saya sanggup menahan rasa malu? waktu itu mindset yang ada hanya cari kerja, karena belum punya modal. Padahal ketika masih kuliah sudah berkeinginan usaha. Dan pernah dimarahin seseorang ketika mau usaha tetapi tidak jadi karena alasan tidak punya modal.

Sampai sekarangpun saya masih merasakan seperti berada dilumpur hidup. Saya ingin lebih sukses dan lebih kaya lagi. Tetapi mau bergerak rasanya sulit. Banyak cara yang telah saya lakukan untuk keluar dari Lumpur hidup itu, mulai dari banyak membaca buku, mengikuti seminar, bergabung dengan master mind, tetapi rasanya langkahku belum optimal. Rasanya jalanku masih lambat sementara perjalanku menuju impianku masih jauh terbentang.


Sanggupkah aku sampai di terminal impianku, mempunyai perusahaan dengan asset dan omzet lebit dari 100 milyar, mempunyai pondok pesantren, menjadi inspirator bisnis muslim dan menulis buku best seller.

Saya merasa bersyukur kesadaran diri untuk terus maju, tidak mengenal lelah dan pantang menyerah, masih terus bergemuruh didadaku. Mungkin semuanya perlu proses dan waktu. Yah yang penting saya masih menggegam impianku dengan erat. Saya masih bersemangat untuk meraihnya. Tidak peduli rintangan yang akan saya temui. Tidak peduli lumpur hidup baru akan mengurungku. Aku harus tetap mengejar impianku.


Semoga semuanya bisa terwujud sebelum kematian datang. “Ya Allah, bukannya aku tidak mensyukuri nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan kepadaku. Jika semua ini hanya untuk saya, itu semua sudah lebih dari cukup ya Allah. Tetapi saya ingin hidup bukan hanya untuk saya dan keluarga saya. Saya ingin menjadi orang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Saya ingin memenuhi panggilan RosulMu. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.. Kami berharap Engkau mengabulkannya. Engkau masukkan kami kedalam golongannya orang-orang mulia disisiMu.”

Baca selengkapnya......

Apakah anda seperti lalat yang terperangkap kaca cendela?

Senin, 09 November 2009

Minggu lalu, tepatnya tgl. 5 dan 6 November, saya pergi ke Surabaya, untuk melihat mesin press yang kami butuhkan. Saya tertarik melihat mesin tersebut karena harganya sangat murah, hanya 1/15 dari mesin buatan China.

Setelah melihat mesin tersebut saya tidak heran lagi, jika harganya sangat murah. Karena mesinnya memang sangat-sangat sederhana, tetapi dapat berfungsi dengan baik. Namun yang mengherankan bagi saya adalah kenapa saya tidak pernah berpikir atau mempunyai ide untuk membuat mesin press seperti itu? Padahal idenya sangat sederhana. Hanya dengan sekali melihat saja, saya yakin bisa membuatnya.

Mungkin barangkali ini, yang menyebabkan banyak diantara kita yang sulit menjadi sukses. Sukses dibuat rumit, sehingga mereka tidak mampu atau sulit menggapainya. Hal ini disebabkan karena mereka berpikir lurus kedepan. Atau tepatnya mereka mengenakan kacamata kuda. Sehingga mereka tidak bisa melihat kanan dan kiri. Apalagi melihat ke belakang.

Saya jadi teringat akan kisah seekor lalat yang mati didekat kaca cendele. Lalat yang ingin keluar dari ruangan, melihat sinar matahari lewat candela yang ada kacanya. Dia berpikir” ini jalan keluar”. Namun ketika dia terbang menuju sumber cahaya matahari, dia terbentur kaca candela. Dengan hati yang optimis dan penuh semangat dia berusaha keluar dari kamar lewat kaca candela tersebut. Namun semakin dicoba rasanya semakin sulit saja. Akan tetapi dia tidak putus asa, dia terus mencoba sehingga mengitari seluruh bagian kaca candela tersebut. Dia terjebak dalam keyakinannya bahwa hanya ada satu jalan untuk bisa keluar ruangan itu. Akhirnya dia mati kelelahan. Padahal apabila dia mau berpaling kebelakang dia bisa selamat. Namun itu tidak dilakukanya karena dia tidak tahu kalau ada jalan disitu. Yang dia tahu hanya jalan yang ada didepannya.

Pembaca, jika anda perhatikan betapa banyak orang terjebak dalam kehidupannya. Mereka mengira tidak ada jalan lain kecuali jalan yang dia tempuh. Kalau toh mereka tahu meraka tidak mau menempuhnya karena takut akan gagal. Sehingga mereka berusaha menerima dan menikmati apa yang dia lakukan . Mereka berusaha menekan kesedihan dan kekecewaan yang mereka alami. Kemandekan karier, kekurangan uang, akhirnya terpaksa mereka terima.

Padahal apabila mereka mau melihat kanan dan kiri, mau melihat kebelakang kemudian mau menempuh jalan yang terbentang itu, mereka akan bisa berlepas dari keterpaksaan yang selama ini mereka alami.

Apakah anda saat ini juga terperangkap?, ya saya juga masih terperangkap, semua orang masih terperangkap. Namun bedanya, mereka telah banyak terlepas dari berbagai macam perangkap. Semakin anda banyak terbebas dari perangkap maka semakin bebaslah anda. Namun jangan berharap anda akan terbebas dari semua perangkap. Karena itu berarti anda mati. Selama anda masih hidup perangkap kaca candela masih tetap anda.
Untuk mengetahui cerita tentang bagaimana saya bisa terlepas darimperangkap pekerjaan, bisa anda baca disini

Semoga bermanfaat,
See you in the top

Baca selengkapnya......

Kisah Toko Grosir dengan modal awal hanya Rp. 500.000,-

Senin, 26 Oktober 2009

Beberapa minggu yang lalu saya silaturahmi ke rumah teman menunauikan ibadah haji. Wah ternyata ada perubahan yang sangat signifikan pada usaha yang selama ini beliau jalankan.

Haji Hambali, begitulah nama beliau orangnya pendiam, namun dari pendiamnya tersebut ternyata menyimpan potensi wirausaha yang luar biasa. Bagaimana tidak hanya dalam kurun waktu 5 tahun usaha toko grosir, yang dijalankan dari modal hanya Rp. 500.000,- itu kini asetnya sudah lebih dari Rp 350 juta. Ditambah lagi beliau dan istri sudah menunaikan haji.

Diawal perjalanan usaha beliau sempat terhenti, karena usaha beliau menawarkan barang ke toko kelontong disekitar rumahnya gagal. Dalam kondisi semangat sedang menurun Allah mengirimkan pertolongan, ada salah satu tetangganya berniat kolakan ketempat beliau. Karena modal yang cekak tersebut maka, agar dapat bersaing dengan toko grosir yang ada dipasar yang tidak jauh dari rumahnya, belaau berani tidak mengambil untung. Jadi praktis kerja bakti.

Transaksi pertama tersebut cukup memberi semangat dan inspirasi., Akhirnya berkat keuletan dan keramahan beliau dalam menawarkan dagangannya dan melayani pelanggan, satu persatu pelanggan mulai didapatkan. Beliau membawa dan menawarkan dagangannya menggunakan motor. Cara ini untuk mensiasati agar pelanggan tidak tahu bahwa beliau hanya bermodal cekak.

Kemudian dengan konsep, hidup sederhana dan menahan segala keinginan, keuntungan yang diperoleh digunakan untuk menambah modal. Maka tidak heran dalam waktu relative singkat , 5 tahun modal yang hanya Rp. 500.000,- bisa menjadi Rp. 350 juta lebih.

Kesederhanaan beliau tercermin dari ketika beliau naik haji, saya perhatikan beliau tidak membeli barang yang mahal-mahal. Bahkan saya sering memergoki belaui dan istri cukup makan mie instant saja yang dibawah dari tanah air.

Yang lebih menarik lagi. Walau kini beliau terbilang sudah cukup sukses namun beliau belum mau menikmati hasilnya untuk membeli mobil, yang sudah menjadi” ikon” agar terlihat kaya.

Ya saya yakin, tanpa disadari beliau telah menerapkan prinsip “ingin menjadi kaya bukan kelihatan kaya”.

Dari kisah singkat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ;

1. Untuk berbisnis tidak mesti memerlukan modal besar, walaupun nampaknya usaha tersebut diharuskan memerlukan modal besar asal anda mau dan tahu caranya.
2. Agar bisnis cepat berkembang anda harus berani hidup sederhana dan menunda menikmati hasil usaha anda.
3. Kemauan mengalahkan segalanya baik itu kemampuan maupun pengetahuan. Betapa banyak orang yang mampu dan mengetahui cara melakukannya namun mereka tidak mau bertindak
Demikian, semoga bermanfaat.
See you in the top

Baca selengkapnya......

6 Kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin

Sabtu, 10 Oktober 2009

Secara alami apa yang terjadi didunia ini mengikuti hukum alam, yaitu sebab akibat. Kecuali jika ada penetrasi dari luar maka hukum tersebut tidak berlaku. Namun anda harus secara terus menerus memberikan pengaruh dari luar tersebut tanpa henti. Begitu pengaruh dari luar dihilangkan, maka akan kembali mengikuti hukum alam.
Begitu pula manusia juga tunduk terhadap hukum alam. Maka apa yang kita tabur, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita lakukan itulah yang akan diterima.

Dengan mengikuti hukum tersebut, kita dapat mempelajari , kenapa seseorang menjadi kaya, sementara yang lain miskin. Setelah diamati ternyata ada perbedaan perilaku atau kebiasaan yang menyolok antara orang kaya dan orang miskin. Dan kebiasaan-kebiasaan itulah yang menyebabkan seseoarng menjadi kaya. Dengan demikan jika anda melakukan kebiasaan-kebiasan tersebut maka anda berada pada jalur yang benar menuju keberlimpahan harta.

Setidaknya ada 6 kebiasaan yang dilakukan oleh orang kaya yang tidak dilakukan oleh orang miskin, yaitu

1. Menunda kenikmatan,

Orang kaya mampu menunda menikmati apa yang mereka peroleh untuk mendapatkan yang lebih besar. Kita sering mendengar bagaimana perjuagan orang non pribumi sehingga mereka mampu menguasai perekonomian kita. Ketika mereka masih dibawah mereka cukup makan bubur seadanya walaupun sebenarnya mereka mampu untuk makan yang lebih mewah. Mereka juga rela hidup dirumah yang sempit, meskipun mereka mampu tinggal dirumah yang lebih besar. Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin membangun atau mengembangkan pendapatan yang lebih besar lagi. Mereka ingin menjadi kaya bukan kelihatan kaya.Nanti pada saatnya, baru mereka menikmati apa yang diusahakan selama ini.
Kebiasaan ini berbeda dengan orang pribumi yang kebanyakan miskin. Orang pribumi jika memperoleh penghasilan, bingung ingin segera membelanjakannya. Membeli baju baru, membeli TV yang lebih besar, membeli kendaraan dan lain sebagainya yang sifatnya konsumtip.
Ini semua mereka lakukan karena mereka ingin segera menikmati apa yang diusahakannya. Atau mereka ingin segera dipandang sebagai orang yang berhasil atau kaya. Namun pada akhirnya kehidupan mereka bukannya terus membaik tetapi sebaliknya justru malah menurun atau mandek. Karena mereka tidak berusaha membangun atau mengembangkan pendapatan dari hasil yang mereka peroleh. Tetapi hasil yang diperoleh habis untuk belanja barang konsumtip untuk memenuhi keiinginannya biar kelihatan kaya.

2. Kerja keras
Orang kaya sanggup dan mampu bekerja keras, karena mereka paham akan hukum alam. Siapa yang menabur akan menuai. Siapa yang menabur banyak akan menuai banyak. Dengan demikian siapa yang kerja keras akan mendapatkan hasil yang banyak.
Sementara orang miskin berpikir sebaliknya. Mereka inginnya kerja sedikit tetapi menedapatkan hasil yang besar. Mereka tidak mau diserahi tanggung jawab yang besar, tetapi mereka ingin gajinya terus naik. Meskipun mereka kerja banting tulang memeras keringat, karena mereka kerja kasar, seperti buruh bangunan atau buruh pabrik, mereka bukan kerja keras, namun sebenarnya mereka adalah pemalas. Mereka malas berpikir, malas mengembangkan kariernya dan malas menerima tanggungjawab yang lebih besar. Akhirnya mereka menerima kariernya mandek. Jika ada orang mempertanyakan tentang sikapnya itu mereka menyalahkan pihak lain.

3. Hemat

Orang kaya itu hemat, sementara orang miskin itu boros. Kelihatanya pernyataan kurang tepat. Namun begitulah kebenarannya. Orang dikatakn boros apabila sebagain besar atau seluruh penghasilannya habis dibelanjakan. Jika seseorang mempunyai penghasilan Rp. 1000.000,;perbulan dan semuanya habis dibelanjakan maka dia itu dikatakan boros. Sebaliknya jika seseorang mempunyai penghasilan 10 milyar perbulan lalu mereka membeli BMW seharga 1,5 Milyar, dia tidak dikatakan boros. Walaupun yang dibelanjakan nilainya besar namun pendapatannya jauh lebih besar.
Orang kaya dalam membelanjakan uangnya, selalu dikaitkan dengan segi manfaat dan keuntungan. Semantara orang miskin mementingkan gengsi.

4. Tidak mudah merasa puas.

Ada perbedaan antara merasa puas dan bersyukur. Merasa puas terkesan akan mandek dan tidak mau berusaha lagi. Sementara bersyukur, terkesan menerima hasil yang diperoleh dengan senang hati, namun tetap berusaha , bekerja dan berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar lagi.
Kadang pemahaman kita salah, orang kaya itu rakus dan serakah dan orang miskin itu menerima dan mengalah. Apa benar demikian?

5. Menghargai uang sekecil apapun.
Sepintas kebiasaan yang kelima ini sama dengan hemat atau kebiasaan ketiga. Tetapi sebenarnya berbeda. Perbedaannya adalah hemat berkaitan dengan pengeluaran uang sedangkan menghargai uang sekecil apapun, berkaiatan dengan pendapatan.
Orang miskin perpendapat buat apa uang satu rupiah atau dua rupiah, bikin capek saja. Namun orang kaya berpendapat, jika uang seperak dikalikan 1 juta maka akan jadi besar. Atau uang Rp 9999 tidak dikatakan Rp 10.000, walau kurang 1 rupiah saja.

6. Tidak malu, kerja apapun akan dikerjakan tidak pilih-pilih
Orang kaya tidak mengenal malu mengerjakan sesuatu jika itu baik, halal dan mengahasilkan. Namun orang miskin, pilih-pilh dan mengutamakan gengsi. Karena itu kebanyakan orang miskin itu bekerja. Mereka pikir bekerja itu lebih terhormat apalagi jika memiliki jabatan. Saya mempunyai teman seorang mantan direktur suatu perusahaan. Karena perusahaannya bangkrut maka terkena PHK. Karena usianya sudah cukup berumur maka dia mengalami kesulitan mencari kerja ditempat lain. Akhirnya memutuskan untuk usaha sendiri. Walaupun usahanya cukup lumayan, tetapi dia tidak merasa puas, apalagi jika ditanya anaknya. “ Bapak ini kerja apa sih dan jabatanya apasih. Kok dirumah terus.” Hatinya terasa teriris-iris.

Apakah 6 kebiasaan ini sudah anda lakukan?, Selamat anda berada dijalur yang benar menuju hidup berkelimpahan. Jika 6 kebiasaan tersebut belum menjadi kebiasaan anda maka segera biasakan sebelum terlambat. Percayalah anda akan menjadi orang yang kaya. Saya pribadi sudah mempraktekannya. Dan kehidupan saya alhamdulillah penuh dengan keberkahan
Demikan semoga bermanfaat.
See you in the top

Baca selengkapnya......

Hemat bukan berarti pelit.

Rabu, 19 Agustus 2009

Pada tulisan saya yang lalu dengan judul “Menjadi kaya dengan teori Wedge” , disana saya memuat pepatah yang berbunyi “ Hemat pangkal kaya”.
Saya tidak ingin pembaca salah dalam mengartikan pepatah tersebut, karena itu saya perlu menjelaskannya lebih lanjut.

Ya, hemat bukan berarti pelit. Ada sebuah cerita yang menarik tentang seorang konglomerat. Suatu ketika didepan hotel berbintang sang konglomerat mengambil dompet dari saku celananya. Tanpa disengaja ada uang koin jatuh dan menggelinding di lantai, lalu jatuh dilobang yang sempit.

Sang konglomerat bukan merasa malu ada uang recehan didompetnya, tetapi malah merasakan uang Rp 1000,; yang jatuh dilubang yang sempit tersebut layaknya mutiara. Cukup lama sang konglomerat tersebut berusaha untuk mengeluarkan uang recehan tersebut namun tidak bisa juga. Seorang satpam yang melihat kejadian itu mendekati dan membantu sang konglomerat untuk mengeluarkan uang recehan tersebut. Akhirnya uang recehan Rp. 1000,- dapat dikeluarkan oleh satpam.

Tanpa pikir panjang sang konglomerat mengeluarka uang Rp.10.000,- dan diberikan kepada satpam yang membantu mengeluarkan uangnya Rp. 1000,- dari lubang yang sempit.
Kebetulan ada seorang wartawan melintas dan melihat kejadian tersebut. “ maaf pak , apa saya gak salah lihat. Anda kehilangan uang Rp. 1000,- dan berusaha untuk mendapatkannya kembali dengan susah payah. Tetapi anda memberi uang Rp. 10.000,- kepada orang yang membantu anda mendapatkan uang tersebut. Anda kehilangan uang Rp. 10.000,- demi mendapatkan Rp. 1000,-? Tanya wartawan. “ Oh, saya tidak ingin uang saya hilang tanpa tujuan. Uang Rp. 1000, tersebut hilang tanpa saya kehendaki dan tidak ada tujuannya, karena itu saya berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya kembali. Sedangkan uang Rp. 10.000,- tersebut keluar sebagai balas jasa. Dengan demikian sangat berharga dan mempunyai tujuan mulia.

Dari cerita diatas dapat diambil beberapa pelajaran antara lain :

• Gunakan uang anda dengan bijaksana. Jangan sampai uang anda keluar dengan sia-sia, tanpa bermakna. Pastikan uang yang anda keluarkan dipakai untuk membeli sesuatu berdasarkan fungsinya bukan karena gengsi, apalagi ikut-ikutan. Jika anda perhatikan orang-orang kaya yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri, mereka sangat menghargai uangnya. Mereka tidak mau hidup boros dan berfoya-foya. Namun setelah kekayaannya jatuh ke tangan generasi berikutnya, kebanyakan akan musnah karena generasi penerusnya, tidak menyadari akan pentingnya hidup hemat.

• Hargailah uang anda berepapun nilainya dan manfaatkan secara maksimal apa yang anda miliki. Salah satu sikap salah yang sering kita temui adalah kebiasaan tidak menghabiskan makanan ketika makan. Membeli sesuatu yang tidak berguna. Hal ini kelihatannya remeh namun, ini menunjukkan sikap. Jika tindakan sudah menjadi sikap maka akan menjadi pandangan hidup dan akan menentukan nasib anda dimasa mendatang. Oleh karena itu hati-hati dengan sikap anda walaupun kelihatannya remeh karena akan menentukan masa depan anda. Dan anda akan menyadari bahwa kebiasaan atau sikap yang sudah mendarah daging akan sulit dihilangkan. Kecuali anda bekerja keras untuk merubahnya. Anda tahu bagaimana orang yang sudah terbiasa merokok, walaupun di bungkusnya sudah tertulis dengan jelas mengenai bahaya merokok mereka tidak peduli. Mereka juga tidak peduli jika diingatkan anggaran uang rokoknya mencapai 10 sampai 20 % dari penghasilnya.

Jika anda mampu mengambil pelajaran diatas dan menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari maka anda telah berlaku hemat, dan anda tidak dikenal sebagai orang yang pelit. Sebagai hadiahnya keuangan anda akan meningkat seiring bertambahnya waktu. Maka kebenaran pepatah “ Hemat pangkal kaya” akan dapat anda rasakan.
Semoga bermanfaat.
See you in the top.

Baca selengkapnya......

Mimpiku Jadi Kenyataan

Jumat, 10 April 2009

Dulu ketika aku masih remaja, pernah bermimpi atau tepatnya bercita-cita. Nanti ketika aku berkeluarga ada empat hal yang aku harapkan :

1. Istriku harus berjilbab, karena saya berpikir jika ingin membangun rumahtangga yang sakinah harus dimulai dari tempat menebar benih yang baik. Berjilbab merupakan langkah awal untuk menjadi istri yang solihah.
2. Beda umur empat tahun, karena saya pikir wanita lebih cepat tua dan monoupose.Selain itu Jika istriku jauh lebih muda dariku maka akan lebih hormat kepadaku.
3. Istriku harus pegawai negeri. Karena saya ingin berwiraswasta. Saya pikir jika usahaku bangkrut masih ada sumber lain. selain itu pegawai negeri apalagi guru atau dosen tidak menyita waktu yang banyak. Sehingga masih banyak waktu untuk anak dan suami.
4. Anakku berjumlah empat.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, semua yang saya impikan tersebut tercapai. Istriku berjilbab, beda empat tahun, pegawai negeri dan aku berwiraswasta dan anakku semuanya 5 keguguran satu jadi tinggal 4,dua pasang laki dan perempuan.

Barangkali ada satu yang agak mengganjal, istriku kini keluar dari pegawai negeri, karena beliau mengajar di Univeritas Negri Malang sedang aku di Jakarta. Waktu 8 tahun telah memisahkan kami, dan kini kami tidak mau berpisah lagi. Maka salah satu cara yang kami anggap baik adalah keluar dari pegawai negeri.

Kini kami sedang membangun mimpi lagi bersama keluarga:

1. Menjadi penulis buku. Karena kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.
2. memiliki bisnis dengang omzet 100 Milyar
3. Menjadi inspirator bisnis muslim.
4. mendirikan pesantren atau sekolah yang akan menjadi amal Jariah kami sekeluarga.

Semoga Allah mendengar dan mengabulkan impian kami ini, dan bisa terwujud sebelum kami dipanggilNya.Amin

Dari pengalaman ini, barangkali dapat diambil hikmahnya, agar hidup lebih berarti dan berdayaguna maka impikan dan rencanakan, hidup anda, istri anda, anak anda, keuangan anda, dan sumber penghasilan anda.

Segala sesuatu yang ada di dunia ini melewati dua kali penciptaan. Pertama penciptaan di alam pikiran kita dan yang kedua di alam nyata.Kita ingin membangun rumah tentu paling tidak kita sudah mempunyai gambaran rumah seperti apa yang akan kita bangun.

Baca selengkapnya......