Sang profesor

Kamis, 31 Desember 2009

Saya kebetulan dilahirkan dari keluarga yang miskin, nomer lima dari 8 orang saudara. Ayah saya adalah seorang tukang kayu sementara ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga yang kadang menyambi jualan tauge di pasar. Kenapa saya katakan kadang-kadang karena ibu saya jualan tidak serius. Mungkin kecapean ngurus anaknya yang banyak.


Dengan demikian kondisi ekonomi keluargaku sangat kekurangan. Agar anak-anak bisa sekolah ayahku menitipkan anak-anaknya ke paman atau bibi. Alhamdulillah aku tidak termasuk anak yang dititipkan ke saudara. Melihat kondisi ekonomi yang demikian berat dan melihat nasib kakak-kakakku, Alhamdulillah timbul niat yang kuat pada diriku.”Saya harus terus sekolah. Apapun yang terjadi aku harus kuliah.” Tekadku ketika masih duduk di bangku SD.


Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan sehingga mempunyai tekad semacam itu. Padahal ketika itu belum banyak pemuda didesaku yang kuliah. Kebanyakan mereka lulus SMA langsung berhenti. Walaupun mereka bersasal dari keluarga mampu.


Melihat kenyataan ekonomi orang tua yang demikian justru semangat kuliah it terus menggebu-gebu. Sehingga timbul sebuah keyakinan dalam hatiku “ dimana ada kemauan disitu ada jalan” dan “ dimana ada prestasi disitu akan dihargai.” Dua peribahasa itu sangat mendarah daging dalam jiwaku. Suatu peribahasa yang sering kita dengar ketika duduk di bangku SD. Tetapi tidak banyak anak yang terpengaruh dengan peribahasa itu. Mungkin ini disebabkan oleh cara mengajar yang salah. Guru kebanyakan hanya mengajar kulitnya saja, sedang makna yang hakiki tidak disampaikan. Sehingga murid hanya menghafal peribahasa atau kata-kata mutiara tanpa menegtahui untuk apa.


Saya berkeyakinan”salah satu cara agar kamu bisa kuliah, kamu harus pandai. Ya harus pandai. Tidak ada pilihan lain”. Berhubung saya anaknya orang miskin tentu makanan tidak banyak mengandung gizi. Tiap hari makan nasi gaplek dan jagung dengan lauk sayuran dan ikan asin maupun tempe. Sekali-kali makan telur jika mendapat”kiriman” telur angsa dari paman . Saya sering mendapat kiriman telur angsa dari paman saya yang tinggal didepan rumah . Angsa paman tidak dikandangkan maka jika bertelor disembarang tempat, salah satunya didepan rumah saya. Saya juga sering menemukan beberapa telor ayam kalkun di tegalan ketika mencari kayu bakar. Gak tahu ini halal apa gak ya?


Menu makanan yang tidak bergizi dan berasal dari keterunan keluarga miskin tentu otak saya tidak cerdas, saya sulit mencerna pelajaran. Namun, kesulitan itu tidak menyurutkan niatku untuk kuliah. Saya malah mempunyai semboyan”Jika orang cerdas belajar satu kali paham, biarlah saya harus mengulang sampai 20 x agar paham”. Karena itu saya menjadi keranjingan untuk belajar. Bagiku belajar adalah menyenangkan. Bagiku tiada waktu tanpa belajar.


Kegemaranku belajar bukannya disambut senang oleh ayahku tapi terkadang saya mendapat teguran yang menyakitkan. Maklum ayahku orang miskin, mungkin dibenaknya yang ada adalah jika mau makan harus kerja.

Sebenarnya bukannya saya tidak mau membantu meringankan beban orang tua. Sayapun turut mencangkul disawah menanam padi,tebu ketela , mencari kayu bakar dan menggembala kambing. Namun walaupun bekerja saya tetap membawa buku sehingga ayahku marah. Meskipun sikap ayah demikian, namun tidak mampu menggoyahkan semangatku untuk belajar.


“ Her,kamu ini bagaimana. Belajar terus, memang kamu bisa hidup dengan makan buku. Sana bantu ibu!” bentak ayah pada suatu pagi ketika musim liburan. Padahal dari pagi saya sudah membantu menyapu rumah dan mengisi bak air untuk masak. Daripada mendapat omelan terus, saya akhirnya pergi kesawah dan duduk dibawah pohon bambu sambil belajar.


Meski saya sudah berusaha dengan keras namun saya belum bisa menempati rangking pertama ketika di SD. Saya hanya menduduki rangking ke 3 kebawah. Tetapi saya merasa bersyukur penghargaan pak Guru terhadapku tidak kalah dengan yang rangking 1 atau 2. Mungkin beliau tahu bahwa itu merupakan usaha keras saya.


Saya tidak tahu persis kenapa ketika duduk di SD dipanggil dengan julukan professor. Saya sangat menikmati julukan itu karena sesuai benar dengan mimpiku yang ingin kuliah.

Barangkali julukan itu dipakai untuk memanggilku karena aku sering terlihat membawa buku kemana-mana. Untung gak dipanggil, kutu buku. Walau artinya baik namun namanya jelek” Kutu buku’ ah sebuah nama yang tidak enak didengar.Tetapi jika panggilan professor, uh keren. “Mau kemana prof?” rasanya enak didengar.

Saya benar-benar terobsesi dengan sebutan itu. Sampai-sampai saya mencukur rambut bagian depan, sehingga jidat saya nampak lebar. Ketika itu saya mempunyai kesan, bahwa seorang professor itu berkacamata dan berjidat lebar.


Membayangkan peristiwa itu saya jadi terheran-heran, bagaimana saya sampai mempunyai ide memvisualisakan mimpi yang ingin diraih. Padahal saya belum pernah mendengar atau membaca buku tentang teori kesuksesan yang menyarankan agar mimpi yang dimiliki divisualisasikan sehingga akan tumbuh mendarah daging di hati dan pikiran kita.

“bersambung”

Semoga bermanfaat.

See you in the top

Baca selengkapnya......

Kehidupan yang besar selalu dimulai dari impian yang besar

“ Saya juga ingin kaya dan sukses. Tetapi bagaimana caranya. Saya ini ibarat orang yang berada dilumpur hidup. Saya ingin keluar tapi tidak tahu harus bagaimana. Bergerak ee malah tenggelam” begitu kira-kira jawaban orang ketika ditanya kenapa kok kelihatannya karier dan pendapatan diam ditempat,

Saya jadi teringat ketika pertama kali ke Jakarta setelah lulus kuliah. Puluhan surat lamaran telah disebar namun sudah 3 bulan lewat belum ada juga surat panggilan yang datang. Ada juga panggilan tes namun tidak lulus. Selama 3 bulan itu saya numpang ditempat kakak saya. Ya walaupun saudara namun perasaanku tidak enak. Bagaimana tidak, seorang sarjana namun kebutuhan sehari-harinya disubsidi oleh kakak yang hanya lulus SMA. Rasanya malu sekali. Tetapi bagaimana? Saya harus bagaimana? Bukankah saya tidak tinggal diam. Begitulah kira-kira, hati ini ingin segera terlepas dari ketergantungan dan beban orang lain. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang saya tahu adalah melamar pekerjaan dan menunggu jawaban. Hanya itu. Lumpur hidup telah mengurungku.

Tetapi makin lama perasaan saya tidak kuat menahan rasa malu dalam hati. Akhirnya ketika motor kakak ada dirumah, saya membawanya keluar.”Saya akan jadi tukang ojek. Yah kerjaan apapaun tidak masalah”. Kakatu dalam hati. Tidak berapa lama mangkal ada seseorang datang. “ Ojek dik. Tolong antarin keluar ya” kata laki-laki setengah baya itu. “Baik pak” kataku agak gugup, maklum baru kali ini saya menjadi tukang ojek.

Namun apa yang terjadi kawan, ketika penumpang sudah naik tetapi motor tidak bisa jalan. Sudah saya coba menarik gas sekencang-kencangnya namun motor tetap saja diam ditempat. “ Maaf pak, coba turun dulu” kataku agak gugup. Penumpang turun, lalu motor saya jalankan. Motor bisa berjalan dengan lancar. “Silahkan pak” kakatu kemudian. Namun ketika penumpang naik lagi, motor tidak mau jalan lagi. “ya Allah kenapa jadi begini. Mau keluar dari ketergantungan orang lain saja sulitnya bukan main.” Kakatku dalam hati. “ Maaf pak, kelihatannya motornya tidak mau diajak cari duit. Silahkan cari yang lain saja” Kataku sambil menunduk malu, lalu pulang dengan tangan hampa. ( eh mungkin itu malaikat kali ya, yang tidak menghendaki saya jadi tukang ojek. Apa jadinya jika waktu itu saya berhasil jadi tukang ojek. karena setelah kejadian itu saya mendapat pekerjaan dan mengantarkan saya seperti sekarang ini)

Ya, begitulah kawan. Sulitnya keluar dari jeratan masalah. Saat itu hanya itu yang aku tahu. Melamar pekerjaan dan menjadi tukang ojek. Namun dua-duanya gagal. Saat itu saya tidak mengenal dan tidak terpikir cara lain kecuali itu. Dagang?. Belum terlintas sama sekali. Tetapi kalau toh terlintas mau jualan apa? Tetapi apa saya sanggup menahan rasa malu? waktu itu mindset yang ada hanya cari kerja, karena belum punya modal. Padahal ketika masih kuliah sudah berkeinginan usaha. Dan pernah dimarahin seseorang ketika mau usaha tetapi tidak jadi karena alasan tidak punya modal.

Sampai sekarangpun saya masih merasakan seperti berada dilumpur hidup. Saya ingin lebih sukses dan lebih kaya lagi. Tetapi mau bergerak rasanya sulit. Banyak cara yang telah saya lakukan untuk keluar dari Lumpur hidup itu, mulai dari banyak membaca buku, mengikuti seminar, bergabung dengan master mind, tetapi rasanya langkahku belum optimal. Rasanya jalanku masih lambat sementara perjalanku menuju impianku masih jauh terbentang.


Sanggupkah aku sampai di terminal impianku, mempunyai perusahaan dengan asset dan omzet lebit dari 100 milyar, mempunyai pondok pesantren, menjadi inspirator bisnis muslim dan menulis buku best seller.

Saya merasa bersyukur kesadaran diri untuk terus maju, tidak mengenal lelah dan pantang menyerah, masih terus bergemuruh didadaku. Mungkin semuanya perlu proses dan waktu. Yah yang penting saya masih menggegam impianku dengan erat. Saya masih bersemangat untuk meraihnya. Tidak peduli rintangan yang akan saya temui. Tidak peduli lumpur hidup baru akan mengurungku. Aku harus tetap mengejar impianku.


Semoga semuanya bisa terwujud sebelum kematian datang. “Ya Allah, bukannya aku tidak mensyukuri nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan kepadaku. Jika semua ini hanya untuk saya, itu semua sudah lebih dari cukup ya Allah. Tetapi saya ingin hidup bukan hanya untuk saya dan keluarga saya. Saya ingin menjadi orang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Saya ingin memenuhi panggilan RosulMu. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.. Kami berharap Engkau mengabulkannya. Engkau masukkan kami kedalam golongannya orang-orang mulia disisiMu.”

Baca selengkapnya......

Lihatlah dengan pikiran bukan dengan mata telanjang

Rabu, 30 Desember 2009

Setiap manusia mempunyai dua jenis penglihatan, penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata bersipat fisik. Penglihatan mata mengatakan kepada kita obyek apa yang ada disekitar kita. Penglihatan mata akan memberi kesan yang sama kepada semua orang. Orang hanya sedikit berbeda dalam penglihatan mata. Pada usia yang masih muda, semua anak yang menggunakan penglihatan mata dapat dengan jelas membedakan obyek seperti orang, bangunan , binatang dan pohon-pohonan. Penglitan mata dari seorang anak dan manusia dewasa tidak ada bedanya.

Penglihatan pikiran berbeda dengan penglihatan mata. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensi manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi. Oleh karena itu penglihatan pikiran akan mempunyai hasil yang berbeda, tergantung latar belakang orang yang melihatnya.

Seorang tukang pengumpul besi tua, ketika dia melihat seonggok besi, maka pikirannya melihat uang dengan cara menjual besi tersebut menjadi barang rongsokan. Namun seorang ahli otomotip melihat seonggok besi tersebut seakan melihat sebuah mobil mewah. Karena besi tersebut akan dijadikan bahan baku mobilnya. Lain lagi penglihatan seorang arsitek bangunan, mereka akan melihat gedung pencakar langit yang indah.

Karena itu tidak heran jika pendiri Daewoo, Kim woo choong mengatakan,” Setiap jalan bertaburan emas.” Mungkin orang awam menertawakan apa yang Kim katakan. Tetapi lihatlah dengan seksama, memang emas bertaburan dimana-mana. Jika anda belum juga melihat emasnya, penglihatan anda yang salah. Anda harus melihatnya dengan pikiran anda. Namun bukan sembarang pikiran tetapi pikiran bisnis.

Ya, ketika anda melihat apapun disekitar anda jika anda melihatnya dengan penglihatan pikiran bisnis, maka apapun akan menjadi uang. Anda akan menemukan emas disana. Ketika anda melihat mobil disana akan terpampang banyak peluang. Mulai dari usaha pengecatan, aksesoris mobil, tambal ban, salon mobil, pencucian dan lain sebagainya.

Berbeda dengan penglihatan mata, kepekaan penglihatan pikiran semakin baik seiring dengan bertambahnya wawasan dan latihan. Kepiawian anda didalam menggunakan penglihatan pikiran ibarat bermaian olah raga. Semakin sering anda berlatih maka semakin mahir dan tajam penglihatan pikiran anda. Oleh karena itu asahlah kepekaan pikiran anda setiap kali anda melihat sesuatu, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut :
Jika diperpanjang atau diperpendek apa yang terjadi?
Jika diperkecil atau diperbesar apa yang terjadi.?
Jika bentuknya dirubah apa keuntungannya.?
Apa yang terjadi jika bahannya diganti lebih murah atau lebih mahal?
Dan lain sebagainya
Semoga bermanfaat
See you in the top

Baca selengkapnya......

Kenapa anda memilih hal-hal kecil untuk dikerjakan?

Malam itu kami berlima, saya, pak H. Ismail, pak H. Sholihin, pak H. Aziz dan pak Syukur menghadiri undangan pak H. Sugeng yang menikahkan anak pertamanya di Balai Prajurit Sudirman. Pak H. Sugeng, tetangga kami adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Beliau mempunyai banyak perusahaan, diantaranya adalah PT Haluan Utama. Namun kesuksesannya tidak membuatnya menjadi orang yang menjaga jarak dengan tetangga lain. Beliau sangat low profil. Salah satu sipatnya yang ingin saya tiru adalah rasa berbaginya yang tinngi. Ya semua karyawannya sudah diberi perumahan gratis dan diumrohkan. Tahun ini beliau memberangkatkan umroh 16 karyawannya.

Saya tidak ingin kesempatan yang langka ini berlalu begitu saja. Atau hanya diisi dengan pembicaraan yang tidak bermanfaat. Maka saya mencoba diskusi dengan pak H. Sholihin yang duduk tepat disamping saya,sang pengusaha watertreatmen. Siapa tahu akan diperoleh pelajaran yang bermanfaat.

“Pak Haji kenal dengan pak Ari wicaksono yang mempunyai perusahaan water treatmen.” Tanyaku membuka pembicaraan. “ ya saya kenal dia. Malah dulu saya teman kerja dengan dia.” Jawab pak H. Sholihin. “ Kemarin saya bertemu beliau. Orangnya masih muda, tetapi semangatnya untuk maju sangat tinggi sekali. Bahkan beliau kini sedang merintis pesantren wirausaha. Dan hebatnya lagi, beliau sedang menyiapkan pabrik air minum, yang nanti keuntungannya digunakan sebagai biaya operasional pesantren. Disamping itu perusahaan air minumnya nanti akan melibatkan para santri, sehingga ada tempat untuk praktik wira usaha.” Ceritaku kemudian. “ wah itu mudah pak teknologinya. Pak Muallif mau saya bikinkan pabrik semacam itu.” Jawab pak sholihin.
Akhirnya kami serius membicarakan masalah industry air minum dalam kemasan, hingga saya dikagetkan dengan ucapan pak H. Sholihin.
“ Pak, bicara bisnis ininya lain kali saja diteruskan. Malu dengan pak H. Ismail ( Pemilik rumah sakit Annisa). Bisnis ini gak ada nilainya. Gak ada apa-apanya” katanya.
Mendengar pernyataan demikian saya menjadi terdiam, ingin meresapi apa makna dibalik kata-kata itu. Namun tidak juga menemukan makna yang baik. Justru sebaliknya terlintas makna” Oh sombongnya orang ini”

Pernyataan itu terngian-ngiang terus ditelingaku, sampai aku menemukan arti yang baik dan tepat. Saya jadi teringat dengan kalimat yang ada di buku “ berpikir dan berjiwa besar” karya Dr. David J. Schwartz. Dalam buku itu beliau menulis yang menurut pemahaman saya sebagai berikut” yang membedakan si A dengan si B adalah cara berpikirnya. Si A berpikir 5 x lebih besar dari si B. karena itu dia pantas mendapatkan minimal 5 x lebih banyak dari si B”

Saya juga teringat akan pengalaman yang selama ini saya temui. Ternyata kesulitan yang ditemui ketika melakukan transaksi besar dan transaksi kecil adalah sama. Saya sering menemukan transaksi dengan nilai 10 juta dan 100 juta ternyata memerlukan waktu, tenaga dan pikiran tidak jauh berbeda. Bahkan terkadang nilai 100 juta lebih mudah didapatkannya dari pada 10 juta.
Namun kita sering melupakan kenyataan ini sehingga kita terjebak dengan kerja keras tetapi hasilnya tidak nampak-nampak. Kenapa kita suka terjebak melakukan hal-hal kecil? Karena kita mengira nilai kecil, kecil pula resikonya dan mudah mendapatkannya.
Betulkah demikian coba renungkan.

Begitulah manusia mereka kadang tidak mengetahui akan kebodohannya. Mereka menyangka kasus yang mereka alami itu sangat specific, sehingga ketika mereka menghadapi masalah lalu ada orang memberi nasehat, bukannya diterima dengan suka cita. Namun yang sering terjadi adalah prasangka buruk dan berkata dalam hati “kau tidak mengalaminya sih. Jadi enak saja kau bicara begitu. Coba jika kau berada diposisiku?”

Yah persis seperti prasangka saya kepada pak H. Sholihin. Kini saya sadar ternyata apa yang beliau katakan benar. Dan mengandung pelajaran yang cukup berharga. Maka pantas di usianya yang masih mudah beliau sudah menjadi orang yang sukses.

Ya. Kenapa anda memilih melakukan dan berpikir hal-hal yang keciL padahal anda orang besar, berpendidikan besar? Ingat waktu kita terbatas. Mari kita sibukkan dengan hal-hal yang akan membuat diri kita cepat besar dengan berpikir dan melakukan hal-hal yang besar. Dengan bermunculannya orang-orang besar seperti anda, Negara ini akan segera bangkit menjadi Negara besar. Tidak seperti sekarang ini.
Semoga bermanfaat.
See you in the top.

Baca selengkapnya......