Gaji Tetap

Dulu ketika masih duduk di bangku kuliah, salah satu keinginan saya adalah mempunyai istri pegawai negeri. Kemudian saya akan bekerja di perusahaan swasta dengan harapan mendapat gaji besar. Karena itu saya tidak mau melamar menjadi dosen di Almamaterku. Meskipun nilai saya lebih dari cukup sebagai syarat menjadi dosen. Karena saya piker menjadi pegawai negeri gajinya kecil.

Alhamdulillah, cita-cita itu dapat tercapai, saya bekerja di perusahaan swasta dan mempunyai istri pegawai negeri. Namun setelah 3 tahun menjadi pegawai swasta dan menerima gaji tetap yang cukup lumayan, hati saya agak terusik setelah mendengar pendapatan teman saya dibagian sales penghasilannya 2-4 x dari gaji saya. Sementara disisi lain saya mendengar gaji saya sudah terbesar diperusahaan itu. Gaji saya melampaui gaji manajer keuangan yang lebih lama bekerja.


Kemudian hati saya berbisik, apa mungkin tahun depan gaji saya bisa naik? Jika naik berapa persen?. Akankah saya akan mendapatkan gaji semacam ini? Gaji naik seiring bertambahnya waktu. Lalu sampai seberapa besar perusahaan mampu membayar saya? Dalam keresahan demikian, muncul ide, “Kenapa saya tidak menjadi sales saja. Sales digaji berdasarkan komisi. Jika saya berjualan banyak maka komisi saya besar. Jadi saya bisa mendapatkan penghasilan seberapa besar yang saya mampu.?”

Karena waktu itu saya belum keluarga, maka saya beranikan diri untuk pindah dibagian sales dengan resiko gaji saya hanya tinggal 1/8 saja. Namun setelah beberapa bulan menjadi sales penghasilan saya sudah menyamai dengan gaji ketika menjadi manager produksi. Kemudian setelah lebih dari 2 tahun bisa mencapai 2- 3 lipat dari gaji manager produksi.Andaikan saja saya tetap menjadi manager produksi apa mungkin gaji saya bisa mencapai 2-3 x lipat setelah 2 tahun kemudian. Rasanya mustahil.

Gaji tetap. Memang tidak ada salahnya mendapatkan gaji tetap, kecuali jika hal itu menghambat kemampuan anda untuk menghasilkan yang lebih besar dari yang anda bisa. Betapa banyak diantara kita yang dengan rela maupun terpaksa menerima gaji dibawah kemampuannya. Mereka rela tidak naik pangkat. Karena atasannya tidak naik pangkat atau pindah tempat.Mereka rela naik gaji hanya berdasarkan kenaikan inflasi. Sehingga walaupun faktanya gajinya bertambah tetapi daya belinya tetap tidak berubah.

Lalu siapa yang salah dalam hal ini? Ya tentu mereka sendiri. Karena hidup ini adalah pilihan.Orang-orang yang bermental miskin lebih suka dibayar berdasarkan upah tetap atau upah per jam. Mereka menginginkan keamanan dan kenyamanan. Dengan upah tetap mereka anggap hidupnya tidak diliputi oleh teka-teki. Dengan gaji tetap meresa akan lebih mudah mengatur.

Ya memang benar. Dengan gaji tetap anda tidak perlu dihantui oleh hari esuk saya apak mendapat uang atau tidak . Selama anda masuk kerja anda akan mendapatkan uang. Namun resikonya anda akan terasa datar dan monoton. Anda tidak akan pernah mendapatkan kejutan-kejutan yang membuat hidup anda lebih bergairah dan menantang. Anda tidak akan pernah merasakan sebagai orang yang kalah tak berdaya. Sehingga anda harus bersimpuh menghiba kepada Allah swt. Anda juga tidak perenah merasakan indahnya menjadi seorang pemenang yang mendapatkan hadiah sangat besar. Sehingga anda bisa merasa bangga dan berucap” Oooh ternyata orang yang berada (ketika bercermin)didepan saya ini adalah orang yang hebat”

Sementara orang yang bermental kaya lebih suka bekerja berdasarkan apa yang mereka hasilkan. Orang demikianlah yang hidupnya dinamis dan penuh semangat. Memang suatu saat barangkali mereka akan jatuh tersungkur dan menghiba kesakitan. Namun itulah indahnya dunia. Anda akan merasakan kenikmatan dan kebanggan yang luar biasa ketika anda dapat mencapai kejayaan setelah keterpurukan.

Anda pilih mana. Hidup yang dinamis. Penuh dengan kenangan yang indah atau monoton begitu saja. Semuanya terserah pada anda.

Semoga bermanfaat
See you at the top

3 comments:

devu mengatakan...

siiip kang haji. ini dia artikel yg saya cari2 dari tadi akhirnya ad jg,ceritanya hampir mirip2. byk pelimpaan kerjaan ampe2 triple job kalee namanya, terutama yg berhubungan dgn tekno meski sy ngeluh jd kurang tidur tetep az kena beban karena dianggap sy doang yg ngerti tp klo sy ngomong gaji selalu jd sunyi,bilang bukan wewenangnya, ini-itu de-el-el,uhh lupa dah kemaleman, mo tidur. oya bedanya saya masih di zona nyaman tp saya dh putuskan keluar, sy ign punya honda jazz sebelum ketua-an. mksi,sy jd terinspirasi. assalamualaikum

siwujil mengatakan...

mantab artikelnya.. bravo buat yg bikin blog ini, salam kenal..

siwujil
www.pintusatu.com

Anonim mengatakan...

setelah membaca artikel ini saya sebagai karyawan swasta jadi merasa sangat2 bodoh, setiap hari dijejali dengan motivasi agar setia kepada perusahaan, toh perusahaan gak melihat banyaknya pekerjaan yang dilakoni tapi gaji tetap aja sama. ini karena ditempat saya gak ada HRDnya jadi mau nyampein unek2 aja bingung mesti kemana, mana direkturnya sibuk dengan urusan sendiri. Sebenarnya tidak perlu menyalahkan perusahaan tapi salah saya sendiri juga gak segera mengambil jalan keluar yang sebenarnya sudah tau jawabannya. Memang benar, mental kita harus kaya biar hidup lebih dinamis. Terimakasih artikel yang sengaja maupun tidak sengaja dibuat membuat saya pun yang membaca jadi termotivasi, salam sukses!!!

Posting Komentar