Spend Smart to Grow Rich

Kamis kemarin tepatnya tgl. 11 Februari 2010 saya ke Bandung mengikuti seminar, yang diadakan oleh HPA. Setelah seminar selesai kami serombongan pergi ke rumah kawan. Dr. Aep di Karawang.

Beliau anak dari petani, namun kini beliau memiliki 3 klinik dan rumah sakit. Saya pikir ini semua adalah hasil dari jerih payah beliau. Ternyata bukan. “ Ini semuanya yang membangun orangtua saya” kata beliau. Ketika saya terkagum-kagum melihat kemegahan dari Rumah Sakit Fikri Medika.

Yang lebih menyenangkan lagi, tanpa diduga saya bisa bertemu dan berbincang secara pribadi dengan ibu dari Dr. Aep. Orangnya baik dan ramah. Bahkan Beliau mengundang saya, jika ada waktu lain kali, makan siang di saung beliau di tengah sawah.

Sebenarnya beliau mempunyai 6 orang anak, namun yang tumbuh sampai dewasa hanya 2 orang dan semuanya menjadi dokter. Sungguh luar biasa kegigihan dan keuletan beliau didalam menjalani kehidupan ini. Dari gabah yang hanya 2 kwintal dan satu sepeda ( modal yang diberikan orang tua ketika beliau mulai berumah tangga), kini menjadi rumah sakit yang nilainya lebih dari 8 milyar dan sawah berhektar-hektar. Padahal mereka (suami dan istri) semuanya tidak lulus SD.

Lalu bagaimana bisa menjadi seperti ini? Ulet, kerja keras, hemat dan hidup sederhana. Awalnya mereka menggarap sawah orang. Hasil yang diperoleh dari menggarap sawah, mereka tabung lalu dibelikan tanah. Sedikit demi sedikit tanahnya terus bertambah dan kini menjadi berhektar-hektar. Dari sumber yang lain saya mendapat kabar bahwa, dari hasil sekali panen, bisa digunakan untuk membeli tanah 1 hektar.

Hemat pangkal kaya, sebuah pepatah yang sudah kita kenal sejak di bangku SD. Namun ternyata hanya sedikit orang yang masih ingat, mau dan mampu menjalankannya. Apalagi dijaman sekarang yang serba materialistik dan konsumtip. Gengsi dijadikan panglima. Sehingga semboyan lelucon “ biar tekor asal kesohor” tanpa disadari benar-benar dijadikan pegangan hidup. Mereka rela mebayar mobil jauh lebih mahal ( karena kredit). Padahal mobilnya hanya ditongkrongin digarasi ( karena memakainya ketika ada acara keluarga saja).

Disamping itu mereka sudah tidak mempercayai atau lupa terhadap, pepatah yang berbunyi “sedikit demi sedikit akan menjadi bukit”. Karena itu mereka meremehkan uang kecil dan pengeluaran kecil. “apalah artinya uang seribu dua ribu, seperak dua perak. Kau tidak akan kanya mengumpulkan uang dengan cara seperti itu.” kilah mereka jika diajak hidup hemat dan menggunakan uang dengan cermat. Memang benar, sulit untuk menjadi kaya dengan berbuat seperti itu. Namun masalahnya adalah makna yang terkandung dalam kebiasaan menghargai uang kecil. Orang yang menghargai uang kecil tentu mereka akan menghargai uang yang lebih besar. Sebaliknya jika mereka tidak menghargai uang kecil tentu mereka akan sembrono terhadap yang lebih besar.

Karena itu mari kita tumbuh kembangkan kebiasaan kita dari sekarang untuk menghargai uang kecil dan pengeluaran kecil. Percayalah hanya dengan keuletan,kerja keras, hemat dan cermat didalam mebelanjakan uang, anda akan tumbuh menjadi lebih makmur dan kaya. Jangan menunggu jumlah yang besar untuk bisa menabung.

Belanjakan uang anda untuk kebutuhan yang mendesak saja, lalu sisanya tabunglah untuk dibelikan asset yang dapat menambah pemasukan anda. Saya yakin kehidupan anda akan lebih makmur dan bahagia.

Barangkali untuk memulai sikap hemat sangat berat dan menyiksa ( karena menahan nafsu memiliki dan mengenyahkan gensi). Tetapi percayalah jika anda tetap konsisten, lama-lama akan berkurang dan anda akan mulai menikmati. Jika anda masih juga tergoda untuk membelanjakan uang anda untuk hal-hal yang kurang produktip, bayangkan asset yang ingin anda beli dan keuntungan yang akan anda raih. Saya yakin anda akan mampu menunda kesenangan untu meraih kesenangan yang jauh lebih membahagiakan dan berjangka waktu lama.
Semoga bermanfaat
See you in the top

2 comments:

Anonim mengatakan...

Tapi, suka kaga bayar gaji orang tuh....

Muallif Wijono mengatakan...

Orang yang gak suka bayar gaji, tentu karyawannya akan mengeluh, mengumpat bahkan barangkali menyumpahi. orang demikian tentu hidupnya gak bisa tenang hartanya gak berkah alias panas. kelanjutannya tentu keberhasilan akan menjauh dari mereka.

Posting Komentar