Mengelola Keuangan

Saya pernah membaca sebuah email tentang keresahan terhadap apa yang dilakukan oleh seorang teman yang telah berani-beraninya “menggugat Tuhan”. Mungkin teman tersebut telah termakan oleh film-film india yang didalamnya kadang berisi tentang gugatan kepada Tuhan.

Teman tersebut merasa dirinya lebih pintar dan lebih rajin, namun kenapa harta yang dimilkinya tidak sebanyak temannya yang lebih bodoh dan lebih malas dan santai. Tuhan dianggapnya tidak adil dan telah berbuat curang kepadanya. Mestinya dialah yang berhak menerima lebih banyak.


Sayang, cara berpikir teman tersebut lebih dikuasai oleh nafsu, sehingga jalan untuk instropeksi diri tertutup. Andaikan saja sang teman tersebut, mau mengedepankan intropeksi diri dan berpikiran terbuka, mungkin dia akan lebih mendapatkan kekayaan jauh lebih banyak dari temannya. Karena dia memang lebih pintar dan lebih rajin. Dia lupa atau tidak paham bahwa kekayaan bukan milik orang pintar dan rajin. Jika kekayaan milik orang pintar, tentu para professor doctor akan menjadi orang-orang kaya. Para pemulung, kuli bangunan dan kuli angkut akan menjadi orang kayak arena mereka lebih rajin. Orang belum bangun dia sudah mulai bekerja. Namun nyatanya tidak demikian.

Kekayaan akan dimiliki oleh orang yang benar-benar menginginkannya dan bisa menjaganya. Ibarat seorang gadis yang cantik, kekayaan akan menjatuhkan pilihannya kepada orang yang benar-benar mencintainya, yang ingin selalu dekat kepadanya, menjaganya dan melindunginya. Dia tidak mau disia-siakan apalagi diremehkan.Tanpa komitmen seperti itu sang gadis tidak akan mau jatuh cinta kepadanya. Jika seandanya sang gadis tersebut salah dalam menjatuhkan pilihanya, maka dia tidak akan segan-segan meninggalkan lelaki yang pernah mencintainya.

Lalu pertanyaannya adalah apakah anda benar-benar mengaharapkan kekayaan? Mungkin anda mengira ini pertanyaan bodoh. Siapa orang yang tidak mau kaya?. Mungkin benar semua orang mau kaya, namun sejauh mana tingkat kemauannya itu. Seberapa besar dia tahan menerima ujian untuk mendapatkan kekayaan yang dia inginkan? Lalu setelah dia mendapatkan kekayaan tersebut seberapa besar kesungguhannya untuk menjaganya agar hartanya tidak terpisah darinya?


Dengan demikian kekayaan itu berkaitan dua hal, pertama kesungguhan untuk mendapatkannya dan yang kedua adalah kesungguhan untuk menjaga dan memeliharanya.

Betapa banyak diatara kita yang telah mendapatkan pemasukan yang tinggi, gaji besar namun diakhir usianya dia bangkrut. Kenapa demikian, karena mereka tidak bisa menjaga dan merawat kekayaan yang telah dimilikinya. Saya pernah menemui seorang mantan manager HRD perusahaan multi nasional, namun di akhir usianya dia mengontrak rumah seukuran type 21.

Kebanyakan orang mampu meraih simpati si gadis cantik “kekayaan” namun hanya sedikit orang yang mampu memjaga dan merawatnya sehingga si gadis “kekayaan” akan tetap menyertai sampai kapanpun. Dia akan tetap setia.

Jadi selain persoalan mendapatkan income yang lebih besar, yang mesti lebih diperhatikan adalah cara menjaga dan membelanjakan uang kita. Seberapapun besar income anda jika cara menggunakan uang anda ceroboh dan boros, maka uang anda akan cepat habis.

Jadi kelolalah uang anda dengan benar. Jika anda orang suka membeli, maka belilah sesuatu bermanfaat. Jika anda suka gonta-ganti mobil agar hobi anda tetap anda nikmati jadilah pedagang mobil bekas. Jiika anda suka ingin gonta-ganti rumah jadilah anda penjual property. Jika anda suka penampilan gonta-ganti baju, jadilah penjual baju bekas. He he he.

Semoga bermanfaat
See you at the top

1 comments:

UII Official mengatakan...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii :)

Posting Komentar