Sekali Lagi Tentang Pentingnya Mimpi

“Luar biasa. Sungguh benar-benar luar biasa” itulah kata-kata yang keluar dari mulutku setelah mendengar misi dan visi dari ESQ, garapan Ari Ginanjar.” Tahun 2020 adalah adalah Indonesia emas dan 2050 adalah Dunia emas. “Sungguh ini adalah mimpi yang besar.” Maka pantas diusianya yang baru 44 th, beliau sudah menjadi seperti ini. Tidak ada yang lebih bergema dan menanjap diingatan dan memberi inspirasi selain tentang kekaguman visi dan misi ESQ.

Kemudian terlintaslah dalam pikiran saya tentang perjalalan hidup yang telah saya lalui. . “ Kamu selama ini kemana saja mas?”batinku menyadarkan diri. Ya rasanya apa yang telah aku capai selama ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dicapai pak Ari. Padahal saya seusia dengan beliau.Lalu apa yang salah dalam hidup saya? Mimpi saya. Ya mimpi saya ternyata terlalu kecil dan sederhana. Ketika kecil saya hanya bermimpi menjadi sarjana. Setelah menjadi sarjana bermimpi mempunyai istri ,anak-anak dan keluarga yang mapan. Setelah hidup agak mapan baru mempunyai mimpi lagi. Mimpi saya muncul ditengah jalan.Dan parahnya lagi mimpi saya dibatasi oleh waktu yang mungkin saya masih bisa berperan. Mimpi saya tidak menjangkau waktu ketika saya telah meninggal.

Kini saya benar-benar semakin yakin bahwa “ Sesuatu yang besar semuanya berawal dari mimpi yang besar. Mimpi yang besar dan focus akan memberikan kita arah kemana kita harus berjalan. Mimpi yang besar dan focus akan membuat kita selalu sadar akan arti hidup. Sehingga kita tidak mudah terlena dengan kemalasan dan kenyamanan yang kita temui diperjalanan.

Ketiadaan mimpi akan membuat orang tidak tahu tujuan yang akan diraih, sehingga waktu tenaga dan pikiran yang dimilikinya tidak digunakan secara optimal. Mereka akan mudah merasa puas dan nrimo. Kadang orang semacam ini mempunyai kata-kata yang sangat enak terdengar dan nampak bijaksana,” Buat apa kita memaksakan diri. Hidup hanya sekali kita nikmati saja. Biarlah mengalir seperti apa adanya.”

Angan angan saya, kemudian melanyang ke wajah 2 teman. Keduanya sarjana. Seorang bekerja namun dalam kehidupannya tidak nampak perubahan yang berarti dari tahun ke tahun. Padahal istrinya juga bekerja. Saya tidak tahu apakah dia menggunakan prinsip “ ingin menjadi kaya dan bukan ingin kelihatan kaya.” Namun yang jelas usia sudah medekati angka 50 th namun perubahan yang signifikan dalam hidupnya tidak nampak. Selain itu dari percakapan yang terjadi apabila saya berkunjung ke rumahnya, nampak ego dan prinsip yang salah. Dan apabila saya koreksi dia mengelak dan mengajukan berbagai macam dalih.

Sedangkah teman yang kedua lebih parah lagi. Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Padahal ketika kuliah dia termasuk lumayan cerdas dan komunikatip. Mestinya dia dapat menjadi orang sukses.
Apakah ini sebuah takdir mereka berdua sehingga nasibnya demikian. Atau disebabkan oleh jalan salah yang mereka ambil karena ego dan prinsip salah yang mereka pegang.

Saya yakin hidup adalah pilihan. Anda berhak memilih menjadi apa yang anda suka. Saya menemukan kesamaan prinsip dari orang-orang yang biasa-biasa saja atau orang yang gagal. Mereka sama sama tidak mempunyai mimpi atau harapan. Mereka mengisi hidup ini tidak dengan sungguh-sungguh. Mereka biarkan mengalir begitu saja. Perubahan waktulah yang menentukan perjalanan hidupnya.

Namun jika dikatakan hal ini kepada mereka , ada sebagian yang menolak. Mereka menyangka sudah berusaha dan bekerja keras. Namun jika ditanyakan apa mimpi anda? Mereka tidak mampu menjawab secara jelas dan spesifik. Jam berapa anda bangun?, berapa kali sehari anda berdoa untuk kesuksesan anda? Bagaimana anda dapat sukses menggapai mimpi anda jika tidak melibatkan yang pemberi kehidupan? Apa yang anda lakukan ketika malam hari? Apa yang anda lakukan setelah sholat subuh? Mengaji Alqur’an, mendengarkan tausiah agama atau membaca koran dan mendengarkan berita yang tidak dapat membawa anda mencapai mimpi? . Atau lebih parah lagi anda tidur lagi? Buku apa yang anda baca dan banyak waktu yang anda sediakan untuk membaca buku tiap harinya? Seberapa sering anda mengikuti seminar? Dan yang terakhir siapa teman yang paling banyak menyita waktu anda tiap harinya?

Jika anda belum bisa menjawab dengan baik pertanyaan pertanyaan diatas jangan pernah anda berkata saya sudah berusaha dan bekerja keras. Anda belum berbuat apa-apa untuk mimpi anda. Oleh karena itu pantas jika harapan dan mimpi anda belum tercapai dan anda hanya menjadi orang yang terpinggirkan dan biasa-biasa saja. Jangan salahkan takdir

Semuanya ada harganya. Tidak ada didunia ini yang gratis. Tidak ada didunia ini yang tanpa menanam dia memetik. Tetapi siapa yang menabur dialah yang menuai. Siapa yang sungguh-sungguh dialah yang mendapatkannya.
Mari kita berlomba untuk menggapai kemuliaan dan kemakmuran hidup baik dunia dan akhirat, dengan bermimpi besar berbuat sebaik dan semaksimal munkin. Dan jangan lupa libatkanlah Allah, dalam menggapi mimpi anda.
Semoga bermanfaat.
See you in the top

2 comments:

Andhika mengatakan...

Itulah pak,saya sendiri juga kesulitan menemukan mimpi saya yang sesuai dengan passion saya.

Muallif Wijono mengatakan...

Ah damai dengan diri itu memang sulit. apalagi mengerti tentang diri lebih sulit lagi. mungkin yang perlu dilakukan adalah lakukan saja apa yang anda suka. kemudian buatlah prestasi yang mengagumkan orang banyak yang berkaitan dengan yang anda suka. sebagi misal. anda suka musik. bermainlah musik. lalu buatlah orang terkagum kagum kengan bakat dan kemauan anda itu. nanti ditengah perjalanan anda akan menemukan sesuatu yang besar yang seharusnya anda capai. itulah mimpi anda.

Posting Komentar